Tonggo Simangunsong
Sepertinya bumi Indonesia masih menjadi tempat di mana Tuhan menaruh perhatian yang serius dengan musibah bencana alam yang datang menerpa silih berganti. Banyak orang mengatakan bencana-bencana yang terjadi di negeri ini diakibatkan oleh dosa-dosa kita, perbuatan-perbuatan manusiawi kita dan tak sedikit pula yang berpikir rasionalis bahwa ini adalah akibat dari fenomena alam yang secara konstan harus tejadi sebagai hukum alam.
Persolannya, atas dasar mana kita memandang dan menalar fenomena bencana alam ini? Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini bahwa Tuhan sedang menaruh perhatian penuh pada kita dan Indonesia menurut hemat saya sangat dekat dengan Tuhan.
Manusia adalah pasangan Tuhan dan Tuhan adalah pasangan kita. Sebagai pasangan yang seharusnya saling mencintai dan saling menghormati maka kita sebagai manusia yang pasti lebih rendah daripadaNya, menghargai dan menjaga karya-karyaNya dan tak pernah membuatNya cemburu dengan perbuatan-perbuatan kita.
Yang kedua adalah—terlepas dari pandangan religius atau dogma agama—pandangan rasionalis manusia akan bencana alam harusnya dicermati tanpa mencampuradukkan unsur religius namun logika. Terlepas dari kodrat bahwa alam adalah karunia Sang Pencipta, manusia juga harus mampu menalarnya sebagai sesuatu yang hidup.
Alam adalah makluk hidup yang juga memilki nyawa seperti kita manusia yang menurutku dalam konteks ini lebih berharga daripada kita. Bayangkan alam semesta tandus tanpa air, udara, tumbuhan dan matahari. Tak ada bidang ilmu pengetahuan apa pun yang mampu menjawabnya, kecuali mengatakan bahwa kita manusia tak berarti tanpa alam, mati!
Persfektif yang kedua ini, menurut hemat saya penting untung dicermati dengan serius. Eksploitasi akan alam belum juga berakhir hingga kini. Penebangan hutan liar masih menjadi bisnis favorit manusia modern, pembangunan yang semakin bersaing dengan megahnya bangunan-nangunan megapolis yang memungkinkan kritisnya lahan bagi satwa dan founa—yang seakan-akan manusia takut kehilangan tempat tinggal sehingga merasa dirinya bersaing dengan para binatang-binatang dan tumbuhan itu—serta penggalian kekayaan alam tanpa perhitungan serta efek-efek kemukhtahiran teknologi seperti efek rumak kaca, freon yang merusak ozon, limbah industri dan sebagainya.
Albert Camus, sastrawan Prancis kelahiran Aljazair itu pernah mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah kehidupan yang absurd. Pencapaian manusia tak akan pernah berakhir dan manusia sebagai subjek kehidupan sepanjang abad tak akan pernah merasa puas pada suatu titik kebahagiaan. Dalam pencapain titik ini, manusia tak jarang menyadari bahwa semuanya adalah sia-sia setelah ia menyadari efek-efek yag telah terjadi akibat perbuatannya. Efeknya dapat kita lihat. Sebuah iklan di tv cukup mampu mengkrtik fenomena ini dengan istilah yang mungkin sudah familiar di telinga kita: “Tanya kenapa”. Fenomena yang sudah menjadi tradisi—contoh kecil—di Kota Jakarta dan di kota-kota besarnya lainnya, banjir sudah menjadi tradisi. Alasannya cukup jelas sesuai dengan motto iklan “satire” itu dapat pula dihubungkan dengan judul lagu Ebiet G Ade: “Tanya pada rumput yang bergoyang”.
Kepongahan manusia yang kerap mengorbankan serta mengeksploitasi alam demi keuntungan pribadi dan pencapaian manusia akan determinasi ilmu pengetahuan hingga menimbulkan ketidakseimbangan alam ini dapat dirumuskan sebagai faktor utama bencana. Mengutip pendapat Thomas Koten dalam esainya mengatakan bahwa bencana alam yang terjadi di Yogyakarta baru-baru ini dapat dipandang sebagai karma manusia atas kebrengsekannya terhadap alam dan ketidakhotmatannya kepada Sang Pencipta (Bencana, Tuhan dan Karma Manusia, Koran Tempo, Minggu 28 Mei 2006).
Sekarang masalah baru muncul. Pencapaian manusia akan teknologi ternyata tak mampu menjawab resiko yang harus dihadapi. Jika kita sadar bahwa bumi kita telah mulai rusak tereksploitasi maka masalah baru tak akan muncul ketika kita selalu terlambat dalam menangani kemungkinan munculnya bencana alam. Jepang adalah kota yang maju sekaligus memperdulikan alamnya. Tak sedikit korban akibat seringnya gempa yang terjadi di negara yang memiliki dispilin tinggi ini. Mereka tak lupa diri, maksudnya mereka mempersiapkan teknologinya untuk mengantisispasi kemungkinan terjadinya gempa yang akan memakan korban. Dalam pada ini, ternyata rasa kemanusiaan kita masih kurang sehingga tak pernah belajar dari bencana sebelumya yang pernah terjadi di Nangroe Aceh Darussalam yang menewaskan ratusan ribu nyawa itu.
Meskipun pada awal tulisan ini mengetengahkan fenomena-fenomena yang terjadi di balik peristiwa bencana alam yang telah terjadi, namun marilah kita kembali pada persoalan tentang bagaimana supaya bencana yang serupa tidak terjadi lebih buruk lagi akibat keberengsekan kita terhadap alam. Bagaimana mencegah bencana bukan terletak pada secanggih apa prediksi teknologi mutakhir akhir-akhir ini, bukan sejauh mana persiapan kita dalam menyelamatkan nyawa dan harta benda kita, namun bagaimana memperbaiki pola hidup kita yang telah menyakiti alam semesta dengan kesombongan-kesombongan kita yang disertai dengan keserakahan-keserakahan kita demi memperkaya dan memegahkan diri.
Pilihan ada ditangan kita. Manusia adalah bebas seperti kata Sartre dalam pandangan eksistensialnya, namun pilihan yang akan kita tentukan hendaknya berazaskan pandangan yang luas. Kita seharusnya memahami bahwa hidup terletak bukan pada lamanya sandiwara dimainkan namun sebagus apa sandiwara itu diperankan. Bagaimana kita memainkan peran kita itu juga bukan terletak bagaimana agar sang sutradara senang tetapi juga kita dapat memetik buahnya.
Biji yang ditanam dengan baik akan menghasilkan buah yang baik, hendaknya biji yang kita tabur juga tak mengganggu tanaman lain dan mengekploitasi alam sesuka hati sehingga buahnya tak akan diperoleh melainkan bencana sebab lahannya telah rusak dan tidak bisa menghasilkan tanaman yang baik namun menimbulkan kelaparan.
(Penulis adalah alumnus Fakultas Sastra Unika St. Thomas Medan)





1 Comment
20 August 2007 at 6:58 am
stambuk tahun brapa lae tonggo? saya jga kuliah di univ st.thomas