Globalisasi, modernisasi atau rangsangan ilmu pengetahuan dan sistem informasi super cepat ternyata membuat kita bingung. Sanggup pulakah kita mengindentifikasi identitas budaya kita?”
Apakah yang akan kita lakukan di tengah merebaknya globalisasi yang hampir saja megaburkan kita. Inilah akibat pola hidup konsumtif yang kini seperti singa, menerkam.
Yang terjadi adalah kemandulan. Keaslian budaya Indonesia nyaris hilang. Ini jugalah yang kita takutkan, lahirnya budaya universal.
Masyarakat kita nyaris hidup tanpa identitas yag jelas. Mereka terlalu asyik dimanja produk-produk kapitalis. Dan sudah menjadi prestise ketika kita hidu dengan jejalan budaya asing. Sekali lagi, budaya ke-Indonesia-an kita hampir punah ditelan ganasnya gemerlap kehidupan modern yang nampaknya sungguh menjanjikan sebuah kesempurnaan.
Benarkah kita sudah tidak mencintai negeri ini hanya karena ketidakmampuan kita mengatasi masalah yang terjadi bangsa kita sendiri sehingga kita berpaling kepada sebuah corak yang serba instan?
Lagi-lagi, inilah fenomena kehidupan bertanah air di negeri yang dikenal dengan semboyan “bhineka tunggal ika” ini. Pluralisme kebudayaan yang terdapat di negara kita, seiring dengan arus modernisasi ternyata tidak mampu menyatukan kita. Bahkan, yang terjadi sepertinya kita justru terombang-ambing, dan khusuk direnggut moda hidup praktis.
Sebuah Refleksi
Komunikasi massa ternyata menakutkan. Meski berperan besar dalam zaman edan ini, secara implisit ia juga menjadi momok yang menakutkan bagi kita negara dunia ketiga, Indonesia.
Hak legislasi media massa, cenderung terjerumus dalam arus kapitalisme. Arus sistim informatika kian didominasi untuk kepentingan komersialisasi bukan lagi pada nilai kemanusiaan. Ia justru aktif membela pihak yang seharusnya musuh menakutkan bagi negara-negara berkembang itu.
Sebuah refleksi tentang nilai kebudayaan nilai-nilai kebudayaan kita yang mulai hilang itu sungguh gampang dipotret dalam keseharian hidup kita saat ini. Produk-produk kapitalisme sepertinya telah menjadi simbol-simbol yang mulai membentuk sebuah kebudayaan baru bagi generasi bangsa kita.
Media massa cetak dan elektronik hadir membentuk nilai dari waktu ke waktu seperti sebuah tumor ganas yang siap merenggut ketika waktunya telah tiba. Produk-produk yang hampir setiap detik itu hadir di hadapan kita melalui kotak eletronik dan kertas tercetak artistik itu ibarat mimpi-mimpi yang akan menjadi kenyataan dalam realitas kehidupan kita.
Ia seakan-akan menganggap bahwa ada sesuatu yang kurang dalam peradaban kita, sehingga ia seolah-olah memberi harapan baru tentang nilai sebuah kesempurnaan sejati yang sebenaranya bersifat utopis. Kebahagiaan semu.
Ia hanya ada dalam khayalan kita. Bukan sesuatu yang mutlak dan pasti. Sebaliknya, ia memberikan kegamangan, mengobrak-abrik nilai yang sejak dulu ada di dalam perilaku kita. Ia memperbudak kita.
Kebudayaan sebagai salah satu indikasi identitas bangsa kembali dipertanyakan ketika muncul masalah baru di khasanah pola kehidupan bermasyarakat kita. Yang terjadi adalah ketidakberdayaan kita menekan arus globalisasi yang mau tidak mau terikut arus dan tunduk kepada penguasa global.
Lantas, bagaimana kita melawan arus masuknya budaya asing yang mulai memasuki ranah kebudayaan kita itu? Kreativitas manusia Indonesia yang mandiri sudah saatnya dilahirkan. Fungsi-fungsi sosial yang telah dirusak sistem model yang sama sekali tidak sesuai dengan kepentingan moral sudah saatnya “didekonstruksi” tapi bukan diikuti pola destruktif.
Peranan legislatif yang seharusnya diorietasikan pada sebuah tatanan nilai yang mementingkan humanitas bukan justru menjadi sebuah serangan yang mematikan terhadap kreativitas komunitas-komunitas berbangsa dan bertanah air, birokrasi!
Cenderung Menjadi Bunglon
Seperti seekor bunglon, itulah gambaran karakter masyarakat kita kini. Yang menjadi prioritas pada konteks ini adalah mereka kaum generasi muda bangsa sebab merekalah yang menjadi penentu masa depan bangsa ini.
Ibarat sebuah bunglon, mereka sepertinya tidak memiliki identitas yang begitu jelas. Pendidikan kita pun masih berprisip belajar mengajar, bukan mengajar belajar. Artinya, guru kita masih belajar untuk mengajar, bukan mengajari muridnya untuk belajar dan mandiri.
Ketika ia melihat sesuatu yang merah di hadapannya, seketika itu juga dengan tanpa banyak pertimbangan sana-sini ia menjadi merah. Begitu seterusnya!
Sebuah komunitas semestinya hidup dengan corak tersendiri, memiliki nilai yang bukan imitasi. Inilah persoalan universal setiap bangsa di negara eks-kolonialisme.
Michel Foucault, filsuf penentang arus ide posmodernisme Perancis itu pernah berkata, “knowlwedage is power”. Nah, bagaimana kekuasaan telah menjadikan bangsa kita justru lemah.
Sebaliknya, yang dukuasai adalah kita. Ilmu pengetahuan justru telah membentuk sebuah kebudayaan dan peradaban baru di negara-negara yang minim kreatifitas.
Bahkan, ilmu pengetahuan dengan sengaja telah membentuk pola hidup masyarakat di negara-negara tersebut cenderung menjadi bunglon.
Seperti yang disebutkan Foucault, apa seharusnya yang kita lakukan? Mungkinkan kita harus lebih memeras rasionalitas kita untuk mengikuti pola hidup industrialisasi dengan azas modernisasi yang mencoba menghantam segala sesuatu yang mitos, terlebih seperti apa yang dianut oleh sebagian besar kaum tradisional.
Kaum tradisional, mereka yang pada dasarnya menghargai bahwa keunikan sebuah budaya terletak pada nilai-nilai hidup yang belum terkontaminasi oleh sebuah budaya baru, insdustrialisasi.
Di sisi lain, ilmu pengetahuan menjadi “hantu” sebuah kebudayaan bagi mereka para konsumerisme. Sedangkan bagi para kapitalis dunia ini adalah sebuah menifestasi kebudayaan modern, di mana ilmu pengetahuan menjadi senjata yang menjadi pamungkas tak terkalahkan oleh musuh-musuhnya. Hanya mereka, para kaum kapitalis yang sanggup mengalahkan dirinya sendiri, lain tidak!
Penulis, alumnus Fakultas Sastra Unika St Thomas Medan, wartawan dan tinggal di Medan.
Tonggo Simangunsong




