4 June 2007...4:33 am

Thales: Kenalilah dirimu, tak ada yang berlebihan!

Jump to Comments

(sekadar merenung; berfilsafat)

Aku hanya ingin berargumentasi soal pandangan Thales tentang manusia: “Kenalilah dirimu sendiri.” Lalu,” Tidak ada yang berlebihan”. Dalam hal ini, aforisme merupakan cemoohan bagi manusia ketika mereka belum mampu mengetahui unsur metafisik hakiki dari dirinya.

Anggapan yang masih patut dipertanyakan adalah:” Manusia tak lebih dari mahkluk yang senantiasa rendah ini ingin lebih mengeksistensikan dirinya sebagai mahkluk yang sebenarnya belum mampu menyatakan kelebihannya sebagai manusia, maka menurut pandanganku, memang benar adanya bahwa kita manusia sebenarnya tak memiliki nilai yang lebih untuk ditonjolkan. Benarkah, bagaimana menurut Anda?

Maka, dari penjelasan di atas, akan dapat pulalah tersusun kalimat yang seperti ini, ini pun kalau kita ingin berfilsafat sejenak:

“Kenalilah dirimu, tak ada yang berlebihan, karena dalam kebodohanmu engkau memegahkan dirimu yang mengakibatkanmu jatuh dan tak berharga.”

Kemudian: ”Sebenarnya filsafat merupakan langkah-langkah kreativitas pikiran manusia yang terbagi dalam dua hal: pencerahan dan sebaliknya, penyombongan diri yang berlebih-lebihan sehingga secara sadar ia tak mampu mengenali diirinya.

Filsafat kelas penguasa berbeda dengan filsafat kaum tertindas, seperti kata Sartre ketika menggagas “Sang Revolusioner”.

Jadi, sekadar mengingatkan: sebelum Anda berfilsafat, sebaiknya tentukan dan putuskan dulu, bahwa untuk apa, demi siapa Anda melakukannya. Bukankah demikian, jika Anda ingin disebut sebagai seorang revolusioner? Tapi, jika tidak, maka Anda adalah filsuf kelas penguasa. Kalau pun tidak demikian, Anda mungkin juga filsuf “bayang-bayang”, yang bergentayangan di dunia kepemikiran yang tak jelas arahnya.

Selanjutnya aku hendak berbicara tentang keberadaan Tuhan. Aku hendak mengutaraan argumentasiku terntang pernyataan Xenophanes dari Colophon (±570 – ±475 SM) yang menyatakan:

“Namun jika ternak dan kuda atau singa punya tangan, atau bisa menggambar dengan tangan mereka dan melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan manusia, maka kuda akan menggambar wujud tuhan mereka seperti ternak, dan mereka akan membayangkan tuhan mereka seperti tubuh mereka pula.”

Dalam pikiranku, aku pun sependapat dengan apa yang kemudian diucapakan Xenophanes: “Hanya ada satu Tuhan, yang paling akbar di antara para dewa dan manusia, yang berbeda dengan mahkluk apa pun dalam hal bentuknya maupun pemikirannya.”

Bagaimana dengan Anda? Tapi ingat, kita hanya sekadar berfilsafat; tak lebih dari sekadar merenung…

2 Comments

  • kayanya Anda harus lebiha giat untuk membaca buku-buku berbaur fillsafat. alasannya begini, kalau kita dapat menelaah lebih dari 4-5 buku filsafat, mulai dari yang kritis, berhaluan kiri dan lain-lain dapat membantu kita untuk lebih mengerti bagaimana ide-ide para filsuf itu, dan apa yang terselubung di balik ide-ide itu, SEBAB perlu Anda ingat, pemikiran para filsuf dulu hingga sekarang memiliki kolerasi yang sangat dalam, intinya ide mereka saling berkaitan satu sama lain, maka kalau kita hanya membaca 1 buku kemudian kita mengambil kesimpulan, bagi saya bukannya salah tetapi kurang bagus, kurang sekali nilai seninya untuk terjun dalam dunia filsafat.


Leave a Reply