Home > FICTION > Bagaimana Menjadi Seorang Zorro…

Bagaimana Menjadi Seorang Zorro…

(Medan, Sabtu pagi, 9 Juni; Tonggo Simangunsong. Seperti dikutip dari film “The Mask of Zorro”)

Alejandro mengambil anggarnya lalu menyerang membabi buta, pun demikian Don Diego de la Vega, menghadapinya dengan cool; slow but sure, ia sudah berpengalaman menghadapi musuh. Sementara Alejandro adalah sosok jiwa anak muda yang urakan, yang hanya tahu bertanding dengan akal bulus, begitu juga saat ia sering melakukan aksi-aksi perampokannya dengan kakaknya bersama seorang pak tua gembel.

Zorro

Alejandro (Antonio Banderas) masih trauma atas kematian kakaknya, Murrieta, yang dibunuh dengan sadis oleh Kapten Love; lehernya ditebas hingga kepalanya terpisah, lalu diawetkan dalam sebuah botol.

Suatu siang, saat sedang mabuk menghilangkan kesedihan itu, Alejandro melihat Kapten Love di sebuah keramaian, kepercayaan Don Rafael. Don Rafael sendiri adalah gubernur yang ingin menguasai seluruh kekayaan California dengan licik, sekaligus pembunuh istri Don Diego de la Vega (Anthony Hopkins), Esperanza dan merebut putrinya yang cantik, Elena (Catherine Zeta-Jones).

Alejandro berlari dan ingin menyerang Kapten Love. Tapi Don Diego yang semula mengajaknya berbicara, langsung menangkapnya. “Bukan saatnya,” katanya.

“Ia sudah terbiasa membunuh, sedangkan kau terbiasa mabuk-mabukan,” katanya lagi.

Don Diego kemudian memberikan sebuah penawaran. “Kamu ingin balas dendam, mari kutunjukkan caranya,” katanya. Dari sana kemudian keduanya menjadi guru dan murid.

Lesson number one

Alejandro kini terjebak, ia terkunci. Sekali ia melawan, barangkali lehernya akan tertebas oleh hanggar Don Diego. Kini keduanya bertatapan muka, sambil merapatkan sikutnya ke leher Alejandro, Don Diego, berkata:

“Lesson number one, don’t ever attack anyone when you are in anger,” sementara hanggar siap menebas.

Ini adalah lesson number one ala Zorro, yang mengingatanku pada hidup sehari-hari. Ternyata Zorro benar, tak jarang dalam menghadapi masalah hidup, seseorang selalu diawali dengan kemarahan akibat kekecewaan. Hasilnya justru kekecewaan yang lebih parah dan kekalahan mutlak.

Kemenangan adalah milik mereka yang tetap cool menghadapi pertandingan, tapi menguasai strategi perlawanan. Barangkali inilah pelajaran yang berharga dari Zorro untuk kita.

“Jangan pernah menyerang siapapun pada saat kamu marah”. Zorro memang selalu tampak cool jika menghadapi lawannya. Tak terlihat wajahnya memerah, ia pun selalu tersenyum lebih dahulu sebelum melawan musuhnya. Senyum itulah, yang barangkali membuat si penjahat geram dan akhirnya menyerangnya membabi buta. Tapi, pada saat itu pulalah Zorro melihat kelemahan itu dan melancarkan serangan. Huruf “Z” tergores di badan si penjahat, hingga pakaiannya terkoyak. “Zorro, the legend is return,” katanya membuat musuh-musuhnya gentar.

Lesson number two

Dalam keadaan bertatap muka, Don Diego lantas memperhatian Alejandro yang urakan, wajahnya berbulu tak tertata rapi. Ia lalu mencium aroma badannya yang bau. Alejandro lalu meliriknya dengan polos dan bertanya-tanya dalam hati. Wajar, sebab ia masih dalam keadaan terkunci dan sewaktu-waktu bisa saja lehernya tertebas.

Tapi,

“And… this is lesson number two,” kata Don Diego kemudian sambil melirik mata muridnya.

Alejandro tersipu malu dan melepaskan hanggarnya dengan jengkel. Segera saja ia bercermin dan merapikan brewoknya, mandi dan berpakaian layaknya petarung sejati. Gagah dan tampan.

Lesson number two adalah penampilan. Seorang Zorro haruslah bisa berpenampilan rapi dan elegan. Maksudnya, untuk menunjukkan bahwa seorang petarung kebenaran harus bisa mendekati musuhnya sedekat mungkin. Caranya, dengan berpenampilan layaknya musuh, agar musuh tak mengenali kita.

Inilah yang terjadi ketika Alejandro dan Don Diego menyusup ke pesta Don Rafael. Alejandro menyamar jadi tuan sedang Don Diego jadi pesuruhnya. Alejandro mengaku utusan kerajaan yang menawarkan sebuah perjanjian. Ia juga mengatakan bahwa kerajaan salut akan Don Rafael. Tentu ini hanya akal-akalan saja demi sebuah kedekatan.

Pada saat itulah Don Diego bertemu putrinya yang cantik, Elena. Dari tangan Kapten Love, Alejandro pun lantas berhasil merebut Elena dengan rayuan mautnya. Mereka pun berdansa diiringi alunan musik Spanyol (Mazurka), disaksikan oleh siisi hadirin pesta.

Don Diego tersenyum, sedang Don Rafael terkejut dan marah, meski kemarahan itu tidak ditunjukkannya kepada Alejandro. “Putri anda ternyata pedansa yang baik, huhh…” katanya melepas lelah, yang lalu disambut tawa kecil dan sinis oleh Don Rafael. Tanpa komentar apapun. Ia memang tidak setuju dengan apa yang baru saja terjadi.

Don Rafael kemudian mengajaknya, menunjukanya visi-visi jahatnya yang ingin membeli California dengan batang-batang emas hasil tambangan budak-budak paksaan, termasuk anak-anak kecil. Alejandro pun mengetahui semuanya itu dan segera menyusun strategi.

The next Zorro

Zorro adalah simbol perjuangan demi keadilan, khusunya bagi rakyat Spanyol. Tak tahu apakah ia hanya semacam mitos atau sekadar utopia di saat kejahatan dan ketidakadilan semakin merajalela, mungkin saja.

Menemukan sosok sosok seperti Zorro di zaman sekarang tentu sungguh mustahil. Mugkin saja, sosok itu masih mengembara kini entah di mana. Tapi, mungkinkah kelak ia akan kembali.

Dalam setiap aksinya, Alejandro selalu berteriak lantang kepada musuh-musuhnya: “The legend has return…!”

Apakah Anda siap menjadi penerus legenda Zorro berikutnya? Tentu sulit untuk menjawabnya… Tapi, dua lesson yang disebutkan tadi bisa jadi semacam pelajaran untuk kita meski kita bukanlah Zorro yang sebenarnya, tapi bisa menjadi petarung sejati dalam peran kehidupan kita sehari-hari.

Mmm…, nampaknya tidak mudah ya?

Film Zorro adalah film kesukaanku sejak kecil. Dulu, serial film ini ditayangkan setiap Kamis pukul 12.30 di TVRI. Biasanya, aku dan teman-teman sudah siap menunggu di depan tivi. Gantian tempat nontonnya, kadang di rumahku, kadang di rumah teman lainnya. Walah… sehabis nonton langsung lari ke luar, menirukan aksi Zorro. “Yii… hah…, siapa mau jadi lawanku…,” kataku sok jago. Padahal, aku sering kalah. Tapi asyik…

Terakhir film ini diperbaharui lagi. Pada 1998 muncul dalam versi layar lebar “The Mask of Zorro” — barangkali sebelumnya sudah pernah dibuat.

Menurut Anda film Zorro termasuk salah satu film bagus gak… Setidaknya menurutku ya… karena ada nilai-nilai mendidik di sana. Apalagi yang memerankannya Antonio Banderas, aktor khas berwajah Latin, bisa lucu tapi enggak konyol, bisa juga serius dan berwibawa.

Eh, ngomong-ngomong soal aktor kesukaan, selain Antonio Banderas, aku juga suka Jhonny Deep (si sosok misterius) dan Alpacino, yang main sangat bagus dalam “The Goodfather”.

Kalau kamu, siapa?

Categories: FICTION
  1. 23 November 2007 at 6:09 am | #1

    Aktor yang paling aku suka?

    JHONNY DEPP.

    Semua hal dalam dirinya buat aku jatuh cinta.
    Bakat yang extraordinaire, karisma yang luar biasa, fisik yang gorgeous, dan kesetiaannya pada ibu dari anak2nya.

    What a man!