(Medan, 2-8 Juni 2007;Tonggo Simangunsong)
Seorang penulis sebenarnya telah mati di saat ia mengetahui bahwa penanya telah mati; tak lagi mampu menuliskan bahasa-bahasa kearifannya. Bahasa-bahasa itu, kemudian perlahan-lahan membunuhnya ketika mulai menguap dan membusuk di otaknya; ia menjadi virus mematikan!
Dalam konteks ini, penulis yang kehilangan pena sama halnya denga pemikir yang kehilangan ide. Maka baiklah, dalam esai ini kedua posisi ini dianggap sama kredonya karena adanya saling kedekatan pengertian dan fungsi diantaranya.
Sebenarnya virus kematian penulis ini masih bisa diobati. Cara pertama, lepaskan semua prinsip berazaskan nurani, integritas dan segeralah bergabung dengan musuhmu.
Cara kedua, jadilah penulis bayang-bayang yang selalu mengikuti arah revolusi. Lalu, kemasilah kopermu dan pergilah ke sebuah desa terpecil, barangkali dengan panorama alam yang indah, di tepi danau mungkin. Belilah semua jenis koran dan majalah yang beredar di kota, akses internet, telepon seluler, jalinan koneksi dengan para elite dan menulislah dengan nama samaran. Aman!
Cara ketiga, berhentilah menulis dan carilah pekerjaan lain. Titik.
Absurd
Dunia seorang penulis itu absurd. Barangkali, hanya dengan semangat revolusioner yang bisa mengisi absurditas itu.
Sayangnya, kesempatannya untuk mengisi absurditas itu pun sering tak diperolehnya. Kapitalisme dengan serakahnya telah merampas eksistensi absurd seorang penulis?
Lantas apakah dengan demikian riwayat seorang penulis akan berakhir? Esai ini akan mencoba menggambarkannya demikian.
Siapa yang menjadi musuh penulis dan untuk apa ia menulis tentu ada alasannya. Apa itu? Bahasa-bahasa kemanusiaan yang dialektis tertuang melalui hati dan mulut yang kemudian berbicara lantang atas nama kemanusiaan namun retoris, tentu dengan etika moral yang dianutnya; yang lalu dinamakan sebuah pemaksaan kehendak atas nama filsafat?
Jika pena itu masih ada, setiap detik dalam kehidupan penulis adalah renungan yang lalu dibahasakan melalui ujung penanya.
Ketika musuhnya berbicara gagah bagai malaikat kudus, meski pandangan itu hanya sebatas persepsi dan nalar manusia – sebab manusia selalu menganggap perbuatannya benar, meskipun Sang Ada; Tuhan yang mencipta yang ada adalah ukuran dari segala yang benar, karena tak ada seorang pun menyangkal bahwa Ia adalah suci – maka, di saat itu ia berpikir, mencari kebenaran di baliknya.
Dan ketika penulis menemukan sesuatu yang baru dalam gagasannya mengenai kebenaran itu, beban pertanggungjawaban hadir padanya. Lantas, di saat itu pula ia menggoreskan penanya. Ia ingin memanusiakan manusia – kata Kant – meski darahnya pun menjadi taruhannya; sebuah moralitas pertanggungjawaban abadi.
Namun ketika ia pena itu ingn dirampas darinya; tatkala pena itu telah hilang, bilur-bilur darah di tubuhnya mengalir lewat sendi-sendi pembuluh nadinya. Ia kini masih memiliki pena lain: pena bertintakan darah, sebuah hasrat untuk berbahasa dengan manusiawi; pemberontakan ini, kata Sartre adalah pemberontakan yang mengalir dari jiwa Sang Revolusioner: memanusikan jiwa-jiwa manusia yang kini enggan meninggalkan tuannya – Lucifer!, si penindas.
Apa boleh buat, penulis ternyata seringkali wafat oleh niat sucinya. Bahasa-bahasa kemanusiaan yag tertulis dengan darah sekalipun sering tidak rampung, ia keburu mati: ia kehabisan darah, mengalir ke tanah bersatu dengan bumi; kaki langit, kata Iwan Simatupang.
Maka, kematian penulis bukan karena mimpinya telah menjadi kenyataan, namun mimpi itu belum lagi terwujud, meski darah di tubuhnya telah habis bagai dinamo yang tak lagi berputar; tak bertenaga, mati karena kemanusiaan dalam jiwa belum sempat dibaca oleh tuan-tuan pemuja Lucifer – bumi ini pun jatuh ke dalam jurang yag semakin dalam, dan Lucifer pun tersenyum, meskipun ia hadir dalam upacara pemakaman sang pemikir dan turut mengucapakan tutur berbelasungkawa, ia menangis, hanya saja ia menagis bahagia. Maka, sebenarnya jelas pulalah sudah perbedaan antara tangis bahagia dan tangis sedih dalam persepsi kemanusiaan.
Senyum itu; senyum setan, dan pengikut-pengikut Lucifer itu pun semakin bertumbuh mengitari bumi yang semakin panas ini!
Armagedon datang, manusia terpecah membentuk front-front yang menyatakan dirinya layak menghuni tempat tersuci di sana; katanya di surga. Setidaknya mereka memiliki persepsi tentang gambaran sebuah surga. Namun, mereka hanya diam duduk merendahkan diri akan dikenal melalui perbuatan sucinya. Sang Ada memanggil mereka, mengutus mereka menjadi penghuni tempat kesucian itu.
Si tuan-tua gila pemuja kekuasaan itu menyesal dan terbakar oleh marahnya. Menentang Sang Ada dengan imajinasi kebebasannya yang menurutnya suci. Namun ia juga adalah Sang Adil, yang mengerti kesucian dan tak mengenal tipu muslihat. Angka setan berbaris tiga runtut itu menjadi dewa mereka; mereka si gila kekuasaan dan mimpi-mimpi gila yang selalu mencuci otaknya.
Di manakah kini penulis sekarat itu? Entahlah, barangkali ia sedang merenung, mencari kebenaran…
Penulis, wartawan tinggal di Medan.




