JEAN PAUL – SARTRE adalah seorang Prancis; pemikir eksistensialis idealis dengan integritas tinggi. Ia juga dikenal sebagai sastrawan pembebasan yang sering mengangkat tema-tema revolusioner dan kebebasan yang ia tuangkan dalam novel, kritik/esai dan drama. Dan tahukah Anda, selain pernah menolak Nobel, ia juga mendirikan koran gila! Koran tanpa iklan, namanya Libération.
Pemikiran Satre banyak dipengaruhi pemikiran Kant, Hegel, Kierkegaard, Camus, De Beauvoir, Freud, Nietzsche, Husserl, Heidegger, Marx, Jaspers, Dostoyevsky.
Karya sastra fenomenalnya antara lain:”Nausea” 1939, “Being and Nothingness” 1943, “No Exit” 1944 (”Huis Clos”), “The Flies” 1948, “Dirty Hands” 1948. Hingga pada 1964 ia dihadiahi Nobel Sastra atas karya pemikirannya mengangkat semangat kebebasan sejati pada masanya. “Man is condemned to be free,“ katanya.
Saat menolak Nobel, pemikir berkaca mata tebal bermata kero ini berkata lantang, Nobel adalah bentuk pengiyaan atas penolakan kebebasan berpikir.
Sartre memang pemikir idealis. Ia bahkan pernah mendirikan koran independen: Libération, yang eksis di Prancis pada era 1970-an. Tanpa iklan. Editornya malah harus menjual mobilnya demi kelangsungan koran yang didanai secara independen itu.
Saking radikalnya, Libération menerapkan sistem penggajian yang merata; bayangkan mulai dari pemimpin redaksi, editor, wartawan hingga tukang sapu perusahaan koran “gila” itu digaji sama rata. Tanpa pandang bulu. Gila!
Artikel tentang koran ini bacalah artikel Thomas Crampton pada International Herald Tribune edisi September 17, 2006 di sini.
Tapi apakah arti eksistensialisme bagi Sartre. Pemikiran ini barangkali boleh dikatakan terlahir karena andil besarnya. Ya, eksistesialisme bagi Sartre berarti sebuah pemikiran yang menjelaskan hakikat manusia dan kebebasan.
Artinya, eksistensi mendahului esensi (L’existence précède l’essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan. Ia tidak lebih dari hasil kalkulasi komitmen-komitmennya di masa lalu. Maka satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan (L’homme est condamné à être libre). Begitulah.
Jika ingin mengetahui lebih jelas tentang eksistensialisme Anda bisa baca ulasan Dian Anekawati di sini.
Dan lebih jauh tentang riwayat hidup Sartre Anda juga bisa baca di sini. Atau di sini.
Selebihnya, barangkali kita akan lebih mengenalnya lewat intisari pemikirannya di sini. Apa boleh buat, Sartre kini hanyalah nama yang sering dijadikan rujukan para pemikir-pemikir muda masa kini. Entahlah, mungkin karena pemikirannya memang bernas dan menggugah!
Meski saya sendiri tak begitu serius mengikuti alur pemikiran eksistensialime, tapi entah bagaiamana pula aku sering terdiam membaca pemikirannya. Karena itu saya malah pernah sesekali menyadur pemikirannya yang bisa Anda baca di artikel-artikel berikut: “Ketika Penulis Kehilangan Pena…”, “Thales: Kenalilah dirimu, tak ada yang berlebihan!”, “Candu Eforia”, “Bukan Sekadar Estetika”, “Bencana, Tanya Kenapa”.
Ah, Sartre, seandainya engkau masih hidup, akan bagaimana ceritanya. Saya pernah membaca esainya: “Sang Revolusioner”. Sungguh revolusioner memang!
Filed under: IDEA

COMMENTS