Surat dari Sahabat Lama
Buat kawanku nun jauh di sana.
Salam damai,
Malam ini aku kembali mengungkap-ungkap buku catatan lamaku sewaktu kuliah dulu. Lucu, begitulah ketika aku membaca kembali tulisan-tulisan lamaku itu. Yang bikin aku sedikit sedih hanya soal surat-suratku dulu yang tidak pernah (sempat) kukirimkan, tapi penuh dengan coretan di sana-sini. Aku malu jika mengingatnya lagi. Surat itu kutulis ketika kerinduanku muncul pada seorang gadis yang pernah kusakiti hatinya. Entah mengapa, saat itu, dua tahun sebelum sebelum surat itu kutulis, aku menyakitinya.
Ah, aku memang tak punya perasaan, tetapi akhirnya… aku merindukannya. Dulu. Sekali lagi, niatku itu telah lama kuurungkan.
Kawan, pernahkah engkau menyadari dengan penuh sadar (sesadar-sadarnya), bahwa waktu adalah perubahan. Sama halnya seperti sebuah proses metamofmosis yang terjadi pada kupu-kupu sebelum demikian ia adanya. Begitulah waktu dapat kita rasakan, sadar sesadar-sadarnya.
Barangkali apa yang kukatakan ini, kawan, sudah sering terlitas di benakmu. Entah itu dari buku bacaan karangan para pujangga masyur atau para filsuf dari jaman Yunani hingga Rene Descartes, yang mengatakan “I think therefore I am” alias “saya berpikir maka saya ada.” (Ah, sial, saya belum mengerti apa yang dia maksud).
Tapi apakah maksudku mengulangi hal itu kembali, barangkali jawabannya juga pasti tak ada guna atau samasekali nonsens, absurd atau “bullshits,” kata mereka yang suka anggap enteng kepada persoalan.
Tapi demikianlah adanya. Kita memang hidup dalam dunia absurd, dunia yang monarki, dunia yang meski dengan sombong kita katakan bahwa kita telah menguasainya, tapi bagiku semuan itu sia-sia.
Hei kawan, akau katakan demikian atas dasar pikiranku. Engkau tentu juga memiliki penilaian atas dunia dan kehidupannya ini. Bukankah begitu?
Pernahkan kawanku bertanya pada diri sendiri,”apakah arti hidup?” Saya yakin, pernah. Apakah jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan itu?
Aku sering bertanya dalam hati kecilku, bahkan aku sering berdebat sendirian dengannya soal makna hidup ini. Lalu, dalam pencarian makna itu, perlahan-lahan seiring dengan bergulirnya waktu dan – lagi-lagi — selalu merubah segalanya, beruntung masih sedikit (masih sedikit!) aku memahaminya, bahwa hidup ini penuh pertanyaan-pertanyaan misterius yang tak sembarangan bisa kupastikan apa jawabannya. Ya, bahwa aku masih selalu bertanya apa arti hidup ini.
Tahukah engkau, kawan, saat mengungkapkan pertanyaan ini, tiba-tiba saja aku merasa seperti sedang menggugat diriku sendiri yang seolah-olah menjadi apatis sudah. Bahkan, kugugat diriku yang sepertinya menggugat Tuhan. Ah, tidak. Tuhan adalah Yang Ada yang membuatku ada yang hingga juga memampukanku berpikir dan mengungkapkan pertanyaan, yang bagi kaum agamawan adalah tolol itu! Tetapi menurut kata hatiku adalah pertanyaan atas propaganda Lucifer. Ah, lagi-lagi aku meski berdebat dengan hati kecilku.
Tidak kawan, aku adalah hamba Sang Ada yang Ilahi. Aku adalah abdi-Nya yang semampu-mampuku kuusahaakan agar menjadi demikian adanya. Aku jijik dengan sebutan propaganda Lucifer, yang katanya segalanya juga mesti (pantas) ditiru karena kegigihannya menjatuhkan musuh-musuhnya dengan berbagai cara, menggoda manusia yang telah menjadi milik-Nya.
Aku jijik jika dikatakan sebagai salah satu jargon Lucifer yang berwujud manusia dengan pengakuan intelektual hingga seluruh isi bumi bisa kukuasai dan semua manusia bisa kudikte dan terkagum-kagum padaku. Aku katakan dengan tegas, bukan! Jika memang terbukti pernyataanku adalah tipuan, maka jelasalah bahwa manusia seperti aku ini pantas disebut jargon Lucifer.
Sialnya, aku tidak sendirian di bumi ini. Aku tidak menuduh engkau kawan, apalagi memfitnah, bahawa akulah variabel manusia-manusia masa kini. Artinya, memang betul apa yang dikatakan Nietzsche suatu kali bahwa “Tuhan sudah mati, kita telah membunuh-Nya!” Bahkan , kita juga telah mengubur-Nya dalam-dalam.
Maka suatu hari, aku pun takjub sekaligus bengis melihat manusia-manusia masa kini yang pernah diolok-olok oleh Karl Marx, keturunan Yahudi itu, bahwa manusia-manusia masa kini itu hanya menyebut nama Tuhan untuk sekadar melampiaskan apa yang mereka alami dalam hidup, bahwa hidup ini memang absurd, kawan!
Kita tidak sanggup menahan absurditas itu kadang-kadang, malah sering, hingga kita berlari pada sesuatu yang masih ita anggap penyembuh, meski ia sudah kita bunuh.
Benarkah ia sudah kita bunuh? Bagaimana bisa!
Pernahkah engkau, kawan, mendengar ucapan si Yahudi berwajah penuh bulu di wajahnya sehingga tampak seram menakutkan itu, bahwa sekali waktu ia pernah berucap lantang,” agama adalah candu manusia!” Manusia-manusia, yang sebenarnya sejak jaman firdaus di Taman Eden hingga Sodom dan Gumorah sudah dikutuk, meski sangat sering dan sangat dengan lantang kita menentang bahwa kita telah (pernah) mengalami hal itu. Ah, aku makin bingung, kawan.
Apakah manusia telah dikutuk hingga akhirnya Milton dengan amat sedih mengatakan, sangat disayangkan manusia telah kehilangan surga abadi, sejak Adam dan Hawa melakukan dosa yang sebenarnya sepele namun menjadikan kita hidup dalam dunia tanpa surga. Milton mengatakan semuanya itu dalam puisinya “Lost Paradise”. Ah, kawan, lagi-lagi Milton menambahi kecemasanku.
***
Aku ingin mengulangi kembali soal surat-surat lama yang di depan sudah kusebutkan, juga buku-buku catatan yang sering kucoreti ketika perkuliahan sedang berlangsung. Ah, kenangan yang membuat aku semakin sadar akan hidup ini, yaitu soal “waktu adalah perubahan”.
Surat-surat lama yang baru saja kubaca itu sedikit banyaknya telah memberiku arti bahwa aku pernah menjalani kehidupan yang haruskah kurindukan atau, bahkan, kuulangi lagi? Ah, biarlah surat-surat itu yang akan berbicara, bahwa aku telah menjadi semakin dewasa. Aku harus melihat segalanya itu melalui waktu yang telah memberiku perubahan, bahwa perubahan itu pastilah sesuatu yang beragam cita rasanya, terkadang ia perih tapi memeberi arti sebuah kedewasaan penuh waswas, atau terkadang ia berlalu seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu pun tapi toh juga mampu akhirnya menyadarkan kita bahwa kita telah sampai pada suatu masa di saat kita mengerti bahwa hidup meski absurd namun harus tetap dijalani, kita telah sampai pada kedewasaan – iman – dan kesadaran kita sebagai manusia yang seharusnya bertanggungjawab pada panggilan moral kita masing-masing.
Hendaknya, begitu kata hatiku — kedewasaan yang terjadi atas waktu yang telah berakibat pada perubahan itu pun memampukan manusia memaknai diri dan hidupnya. Menjadi dewasa berarti semakin bertanggungjawab dengan moral yang diyakininya, dengan iman yang diyakininya, itu saja pun barangkali sudah cukup untuk menjadikan kita manusia semakin manusiawi (seperti humanisme kata Immanuel Kant), bahwa juga yang baik itu bukanlah melulu atas kehendak kata hati, yang malah seringkali dipropaganda jargon-jargon Lucifer yang bergantungan dalam tak berjumlah wujud, tetapi atas pemahaman kedewasaan itu tadi, yaitu kemapuan menangkap makna kehidupan dengan panca indera keenam, bahwa “Yang Ada itu memang Ada.” Ia ada untuk kita bukan untuk sekadar menjadi candu, tetapi sebenarnya menjadi pelita hati; lentera yang mampu menerangi sikap moralitas kita bahwa yang baik bagi manusia dan yang baik bagi Sang Ilahi, itulah sikap moral manusiawi yang sebebarnya kita sebut: kebaikan.
Bahwa suara manusia bukanlah suara Tuhan, tapi pertanyakanlah, apakah suara Tuhan adalah juga suara manusia. Untuk jawaban ini perlu jawaban yang seharusnya dijawab seperti menjawab soal-soal ilmu pasti.
Kawan, aku merindukan masa ini akan tetap kucecap, kukunyah renyah dan kucerna , hingga ia seperti sarapan pagiku. Aku mendamba agar engkau sepaham denganku, kawan. Tapi, aku juga tak ingin agar engkau mengiyakan segalanya yang kukatakan sebab kutahu engkau dan aku adalah sama; setiap manusia bernalar, dan entahlah…karena itu pulalah mungkin mereka selalu berbeda pendapat.
Salam hangatku untuk saudara-saudarimu, kawan. Selamat berjuang.
Dari sahabat lamamu.






KOMENTAR PEMBACA