30 August 2007...6:55 am

Tertegun di Kerajaan Purba Simalungun

Jump to Comments

Posted April 23, 2007

Pematang PurbaSampai di mana perkembangan peradaban sebuah komunitas barangkali dapat ditelusuri lewat kebudayaanya. Dan setidaknya hal inilah yang dapat tergambarkan ketika menjelajahi Rumah Bolon di Desa Purba, Kabupaten Simalungun. Ia sekaligus menjadi bukti sejarah eksistensi Kerajaan Purba Simalungun yang sudah berdiri sejak abad ke-15.

Menjelajahi kawasan Simalungun adalah pengalaman tersendiri. Masing-masing bisa memberi kesan tentangnya. Apalagi memasuki Desa Purba, desa kecil di Kecamatan Pematang Purba Kabupaten Simalungun.

Raja terakhir yang memimpin adalah Raja Tuan Mogang, yang konon jasadnya hingga kini belum ditemukan. Disinyalir ia dibunuh ketika revolusi sosial berlangsung di Simalungun pada tahun 1947.

Jarakanya kira-kira 140 kilometer dari Kota Medan, setelah melalui Kabupaten Karo (Berastagi – Kabanjahe – Merek). Lalu melewati persimpangan menuju Haranggaol dan tibalah Anda di desa yang mayoritas dihuni etnis Simalungun itu. Tetapi, Anda juga bisa memilih akses lain, yakni dengan melalui Kota Pematang Siantar yang jarakya hanya kira-kira 54 kilometer dari sana.

Konon, dulu Desa Purba dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan kerajaan tertua di Simalungun, yaitu Kerajaan Purba yang hingga akhir kekuasaanya, terhitung ada 14 raja yang pernah memegang tampuk kekuasaannya. Jadi jelaslah bahwa kerajaan ini bukanlah satu-satunya kerajaan yang pernah ada di wilayah Simalungun.

Sejarah mencatat, ada lima kerajaan besar yang masing-masing menguasai wilayahnya sendiri-sendiri yang di antaranya tersebar di beberapa wilayah: Siantar, Panambean, Tanah Jawa, Pematang Raya dan Purba. Wilayah ini kemudian didiami oleh marga-marga tertentu pula, seperti Saragih, Manik, Sinaga dan Purba sendiri.

Rumah Bolon Pematang Purba sendiri merupakan kediaman Raja Purba yang pertama kali diduduki Tuan Pangultop-ultop (1624-1648), yang kemudian diteruskan secara turun-temurun dengan sebuah tradisi budaya setempat. Raja terakhir yang memimpin adalah Raja Tuan Mogang, yang konon jasadnya hingga kini belum ditemukan. Disinyalir ia dibunuh ketika revolusi sosial berlangsung di Simalungun pada tahun 1947.

“Tak diketahui siapa pembunuhnya dan apa pula motifnya,” ujar Wanson. penjaga sekaligus pemandu wisatawan, lokasi bangunan tua yang berdiri di atas lahan seluas 1 hektar itu.

Mengenai tradisi pengalihan kekuasaan, Wanson menjelaskan ada semacam tradisi pengalihan kekuasaan yang wajib dilakukan. Ketika raja hendak mewariskan kekuasaannya, diwajibkan untuk menyembelih seekor kerbau, yang lalu tanduknya disimpan agar kelak menjadi bukti untuk raja yang akan berkuasa kemudian. Setidaknya bukti sejarah itu masih dapat terlihat di mana ada 14 tanduk kerbau yang tergantung di dinding ruangan Rumah Bolon.

Lalu, apa dasar pengalihan kekuasaan itu? Seperti lazimnya dalam tradisi kerajaan yang meneruskan kekuasaan pada anak sulung, maka prinsip itu tidaklah mutlak dalam tradisi Kerajaan Purba. “Bukan harus anak sulung, tetapi siapa keturunan yang bagi raja memiliki talenta untuk menjadi pemimpin, maka ialah yang diangkat sebagai penerus kerajaan,” ujar Wanson.

Politik kekuasaan

Sebenarnya, raja yang mula-mula berkuasa di Kerajaan Purba bukanlah Tuan Pangultop-ultop, melainkan Raja Purba Dasuha. Tuan Pangultop-ultop sendiri pada awalnya hanyalah pendatang yang datang dari wilayah Dolok Sanggul yang konon disinyalir berdekatan dengan wilayah Pakpak Bharat sekarang.

Lantas, mengapa ia kemudian menjadi raja? Ini masih berdasarkan penuturan Wanson Purba, yang juga merupakan pegawai dinas pariwisata Kabupaten Simalungun yang dihunjuk untuk mengawasi bangunan tua itu. Ia menjelaskan, kedatangan Tuan Pangultop-ultop ke wilayah Purba awalnya dikarenakan kegemarannya menangkap burung yang kemudian mengantarkannya ke kawasan Purba.

Sebenarnya jika ditelaah, Pangultop-ultop dengan demikian sudah mempraktekkan politik kekuasaan.

Konon, suatu ketika di wilayah hutan belantara Purba, ia berhasil menangkap seekor burung Nanggordaha yang kemudian dari tembolok burung itu (terdapat biji padi dan jagung), ia mendapatkan makanannya sendiri. Ketika ia melihat bahwa Purba adalah negeri yang subur, maka ia pun memohon kepada Raja Purba Dasuha untuk diberikan sebidang tanah. Tanah itu kelak ia tanami dengan biji padi dan jagung yang ia dapat dari tembolok burung itu.

Ini jugalah yang menghantarkan Pangultop-ultop kepada kejayaan. Hasil panen yang melimpah dari sebidang tanah atas kebaikan raja itu, ia simpan di sebuah lumbung besar.

Suatu waktu muncullah masa paceklik yang mengakibatkan penduduk kewalahan mencari makanan. Mengetahui Pangultop-ultop memiliki banyak menyimpan padi dan jagung di lumbungnya, mereka pun lalu memintanya agar memberikan padi dan jagung yang selama itu ia kumpulkan.

Hanya saja, ia tak mau memberi jika mereka hanya memanggilnya dengan sebutan “oppung” (kakek atau orang yang dihormati), melainkan panggilan raja. “Jangan panggil aku oppung jika ingin mendapatkan padi dan jagung dari saya, tapi panggillah saya raja,” katanya.

Mereka pun memanggilnya demikian, yang lantas diketahui oleh Purba Dasuha. Merasa pengakuan terhadap dirinya terancam tidak diakui lagi, maka Purba Dasuha pun mengadakan pertemuan dengan Pangultop-ultop. “Jika kamu memang raja, maka buktikanlah,” katanya, seperti yang ditirukan Wanson.

Hal ini kemudian dituruti Pangultop-ultop dengan mematuhi peraturan yang ditetapkan Purba Dasuha. “Marbijah” (disumpahi) adalah prosesi yang menjadi langkah pembuktian itu. Segenggam tanah, air dan “appang-appang” (kulit kerbau) adalah medianya. Maka, Pangultop-ultop kembali ke tanah asalnya untuk mendapatkan ketiganya.

Segenggam tanah lalu ditabur, dilapisi appang-appang dan di sampingnya ditaruh air yang tertuang dalam tatabu (sejenis tempayan air yang terbuat dari kulit labu). Disaksikan oleh rakyat, lalu Pangultop-ultop bersumpah di hadapan Purba Dasuha dan para ulubalang, katanya, “jika tanah dan air yang aku duduki ini bukanlah milikku, maka sekarang juga aku matilah.” Pangultop-ultop pun kemudian meminun air itu.

Waktulah yang kemudian menjawab sumpah itu. Meski sudah melewati hari, minggu, bulan hingga tahun, namun Pangultop-ultop tidak mati—seperti lazimnya sebuah sumpah yang mengandung kebohongan maka maut adalah imbalannya. Dan waktu jugalah yang menentukan peralihan kekuasaan itu. “Kuakui, sekarang kamulah raja yang pantas memimpin Kerajaan Purba, sebab sumpahmu tak berbala,” kata Purba Dasuha kemudian.

Sejak saat itu Pangultop-ultop resmi diangkat menjadi raja, tepatnya pada 1624, yang lalu memimpin hingga 1648. Sedang raja terdahulu—Purba Dasuha—masih dianggap sebagai raja, hanya saja ia tidak lagi memerintah.

Lalu setelah membalik kembali kisah itu, benarkah ada unsur politis di sana? Sekali lagi ini adalah pengungkapan fakta dari seorang Wanson Purba, yang juga merupakan keturunan Raja Kuraha (panglima raja) Tuan Pangultop-ultop semasa kepemimpinannya. Ia sendiri mengetahui kisah itu dari ayahnya, P Purba yang selama 43 tahun telah menjaga Rumah Bolon.

Wanson pun tak menepis hal itu. “Sebenarnya jika ditelaah, Pangultop-ultop dengan demikian sudah mempraktekkan politik kekuasaan,” katanya. “Pasalnya, tanah dan air serta appang-appang yang digunakan sebagai media sumpah dibawa sendiri olehnya dari tanah asalnya, sehingga memungkinkan ia selamat dari maut.”

Tonggo Simangunsong

17 Comments

  • Yang pasti , meskipun raja pangultop-ultop tidak asli memiliki garis keturunan/darah Simalungun, raja tersebut mau melestarikan budaya, bahasa, beradaptasi juga merasakan serta menghormati bahwa dia adalah Simalungun.

  • wah cerita nya kok hampir sama dengan sejarah marga girsang yah. Oppung kami juga di sebut parultop dan datang nya juga dari pak pak dan sumpah nya juga hampir sama.Yang mana dulu nya naga saribu di pimpin oleh raja marga sinaga dan akhir nya di rajai oleh marga girsang dan cerita nya oppung kami bisa jadi raja hampir sama seperti sejarah marga purba pak pak.

  • wow,,,aku baru tau tuh tentang sejarah nya….
    terus terang…aku merasa malu sendiri..karena aku adalah orang pematang purba asli…dan tidak tau tentang sejarah nya itu…

    makasih yah,,,,

  • Wah makasih lah sudah di terangkan bgmn kronologis crta Raja Pangultop bisa menjadi raj si purba…
    Maksih jg sama abang atau bapa anggi Wanson,,aku jg keturunan Tuan Raja Pangultop,,tepat nya keturunan Yang ke 15..
    Tarima kasih..

  • frans delay purba

    horasssssssssssssssssss anggo marsahap hata simalungun hurang do au, tapi bagga do tumang au… anggo mardingat tanoh hatubuhan ai… agepe daoh, au lang boi lipa tanoh hatubuhaon,
    au keturuna raja purba hamor bulan

  • jamarti saragih,

    Aku pernah dengar cerita dari oppungku, umurnya udah 100 tahun lebih. Pada jaman revolusi, Raja Purba dibunuh di mana ketika itu sedang diadakan pesta rakyat. Menurut cerita,raja purba saat itu disembelih ditempat rahasia kemudian dipotong-potong dan dagingnya dicampur dengan daging babi lalu dimasak untuk dihidangkan pada acara pesta rakyat, awalnya rakyat tidak tahu kejadian itu. Namun ketika acara makan pesta tiba, ada beberapa orang rakyat curiga karena menemukan potongan jari-jari manusia bercampur dengan daging babi pada hidangan makanan. Itulah sebabnya mayat raja purba tidak pernah ditemukan.

    Ok. Tapi itu masih cerita versi oppung (lae atau ito) saja kan? Yang, jelas untuk pembuktian seperti ini dibutuhkan analisis dan penelitian yang lebih cermat. Yang diragukan, komentar-komentar atau cerita-cerita yang terlontar dari mulut ke mulut biasanya memiliki bias. Dan, kebenarannya masih dipertanyakan.

  • parjumagotting

    Menurut cerita oppung saya, umurya sudah 98 tahun, Raja Purba dibunuh pada jaman revolusi. Di mana pada saat itu sedang berlangsung pesta rakyat yang berpusat di rumah bolon. Pada saat itu Raja Purba diculik dan disembelih di tempat rahasia, kemudian dipotong-potong dan dagingnya dicampur dengan daging babi untuk dijadikan lauk pada acara pesta tsb. Pada awalnya rakyat tidak ada yg tau kejadian itu.Tetapi pada saat acara makan siang ,ada beberapa orang yang menemukan potongan jari-jari manusia bercampur dengan potonga daging babi yang dihidangkan. Itulah sebabnya mayat raja purba tidak pernah ditemukan.

    Komentar lae, sejauh ini masih belum bisa dibenarkan. Maka, sebaiknya lae memaparkan cerita oppung lae itu dengan bukti yang jelas. Jadi, pembaca tidak termakan issu yang belum bisa dipegang kebenarannya itu. Bagaimana, Anda setuju?

  • Erond L. Damanik

    Harus disadari bahwa, simalungun heritage yang tersisa adalah Istana Rumah Bolon yang ada di Pamatang Purba. Ia disebut sebagai open air museum yang dipugar oleh Bupati Simalungun, Rajamin Purba.

    Museum yang paling berharga sebenarnya adalah museum Simalungun yang ada di jalan Sudirman Pamatang Siantar, karena dibangun atas prakarsa J. Wismar Saragih dan didukung oleh P. Voerhoeve. Pada saat itu Tuan Silumbak, masih ada dan aktif menerjemahkan pustaha kulit kayu Simalungun. tetapi museum itu kini roboh dan rata dengan tanah.

    Tampaknya, belum terlihat satupun reaksi atas kerubuhan museum tersebut baik dari pemko dan pemda ataupun partuha dan pemerhati heritage simalungun.

    Persoalan “hasimalungunon’ adalah persoalan akademis. Bukan persoalan lain entah berantah dan selanjutnya merupakan hubungan kausal. Orang simalungun bukan berasal dari Toba, bahasanya bukan perubahan dialek toba, pakainnya bukan turunan Toba, makanan pokok adatnya bukan B2, ini saja sudah berbeda.

    Dilain waktu bisa kita berdebat.

    Diate Tupa.

  • Halani ahu boru Simalungun,dwsonaha pe asal usul atau cerita yang sebenarnya,dimasa Lalu itu bukanlah yang utama,
    karena yang lebih penting, hita halak Simalingun
    harus bisa melestarikan budaya, maupun peninggalan yang ada,agar anak cucu kita nantinya
    bukan hanya dapat mendengar cerita tapi dapat melihat bukti dari sejarah keberadaan ” SIMALUNGUN ” itu sendiri.Terutama ” Halak Simalungun ” yang sudah lahir dan tinggal di perantauan. Sonai do kan, Botou/gawei, Tulang/anturang,Inang/Bapa,Namboru/mangkela….

  • trimakasih lah utk panggi wanson purba yang mewariskan asul usul purba ak-pak ini, sehingga generasi-generasi mendatang bisa mengetahui asal usulnya dan perbedaan cerita asal-usul juga tidak semakin bias.

    Cuma mengenai asal usul purba pak-pak ini, rasanya perlu dibangun dalam suatu peta silsilah atau garis tarombo sehingga mudah dipahami generasi berikutnya. Oppung doli bapak saya purba pak-pak nomor urut generai humbanu Opung Pangultop-ultop yang ke – 13 namanya bangkit Purba Pak-pak yang merintis Desa Parjalangan, oppung doli saya no.14 namanya Kadim Purba satu generas dengan Oppung Mogang yang jadi raja terakhir di kerajaan Purba, dan Bapak saya generasi ke-15 bernama Jaintan Purba. Dan saya sekerang ini purba pak-pak generasi ke-16.

    Yang menjadi pertanyaan dan belum saya temukan adalah oppung doli ayah saya sebelumnya dari partuanan portibi, tapi saya belum bisa mendapatkan garis keturunan ke atasnya sampai keterkaitannya dengan generasi yang ditahbiskan jadi raja di Kerjaan Purba. Saya mohon bagi generasi purba pak-pak partuanan portibi untuk bisa bersharing tentang selsilah ini. Diataei Tupama. habonaran do bona. Horas

  • L.S.;

    Like to know the name of all the chiefs of the dynasty of Simalungun areas.Many thanks.
    Please,write to my e-mail.

    Hormat saya:
    DP Tick gRMK
    secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”
    Vlaardingen/Holland

  • meta shabrina purba

    aq uda prnh dengar crta ny dr papa aq.

    setaon yg lalu aq sm klurga jln2 menelusuri asal-usul marga purba!!!!
    yg letak ny di parongil(tuntung batu)……..
    di tuntung batu itu 100% pendu2k ny islam smua.
    yg ber marga cibero.
    qmi klrg purba keturunan dr raja yg ke 11(Tuan Raondop).

  • L.S.;

    First raja of Purba not in the 15th century,but this raja?tuhan Deangultop-ultop ruled according to local source 1624-1648.Purba is not the oldest kerajaan in Simalungun.Dolog Silau and Panei at least more old.Siantar also.Purba one of the youngest kerajaan2 of Simalungun.
    For the rest this article is interesting.

    Thank you for your attention.

    Hormat saya:
    DP Tick gRMK/Pusaka
    secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia Pusaka
    pusaka.tick@tiscali.nl

  • aq mw nanya ni !!!!!
    mengapa marga purba itu ada yg brasal dari simalungun dan ada pula yg brasal dr batak toba.
    tlng donk cr tw asal usul nya.

  • First raja of Purba not in the 15th century,but this raja?tuhan Deangultop-ultop ruled according to local source 1624-1648.Purba is not the oldest kerajaan in Simalungun.Dolog Silau and Panei at least more old.Siantar also.Purba one of the youngest kerajaan2 of Simalungun.
    For the rest this article is interesting.

    Thank you for your attention.

    Hormat saya:
    DP Tick gRMK/Pusaka
    secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia Pusaka
    pusaka.tick@tiscali.nl

    Artini,
    Raja purba naparlobei sedo bani abad 15,tapi raja tuan pangultop-ultop on susur hu Simalungun kira-kira tahun 1624 das hubani 1648.Harajaonni purba sedo harajaon situanan i Simalungun.Raja Dolok silau pakon raja Paneido pakon raja Siattardo situanan,Harajaon ni purba tarmasuk sada harajaon siposonan isimalungun.

    Sonaha tulang,tongondo ikira ham terjemahan hai.anggo dong nalepak patugah ham ija lepakni,

  • bnyk org batak toba blg marga purba itu asal muasal nenek moyangnya dari toba. dgn sok intelek merasa paling tau dgn bukti yg sama sekali tdk kongkrit tp ngotot bahwa apa yg dia blg itu adlh bnr. kl ada diantara anda yg ingin tau ttg kbnrn sejarah simalungun termsk marga purba silahkan dtg ke alamat
    ini. jln pdt j.wismar saragih no.179 pematang raya kab.simalungun sum-ut. dia adlh satu2nya keturunan raja purba dasuha yg bnr2 perduli dgn sejarah.


Leave a Reply