Home > FICTION > Mimpi Deri

Mimpi Deri

[The Muse; cerpen anak]

Oleh: Oom Tonggo

mimpi deriSuatu Minggu pagi yang cerah di kebun kakek. Bunga mawar merah dan putih, mekar indah sekali. Matahari memancarkan sinarnya, cerah. Seakan ia ia tersenyum dan menyapaku, “Selamat pagi. Kamu sudah tahu kan, aku masih setia padamu, Deri…”

Kuhampiri setiap sudut kebun kakek. Beberapa kupu-kupu tampak mulai keluar dari peraduannya. Dan terdengar suara gemericik air dari kejauhan.

Kakek juga punya anjing, Cikko namanya. Bulunya lebat. Cikko yang manjagai kebun kakek setiap saat.

Aku berlari bersama Cikko mengelilingi kebun kakek. Cikko mengejarku. Kami saling berkejaran, bergantian.

“Deri!” Kakek memanggilku. Ia tampak jauh. Tangannya melambai. Segelas susu coklat sudha dibuatnya untukku.

“Habiskan ini. Kita akan pergi,” kata kakek yang sudah putih rambut dan kumisnya. Aku lalu meneguk habis susu coklat itu. Beberapa potong roti bakar juga ikut kulahap habis.

“Hari ini kita akan pergi berkeliling kebun dan memancing, siapkan ranselmu.” Horeee! Senang rasanya bila pergi bersama kakek.

Kakek mengajakku mengitari kebunnya. Hamparan bunga matahari dan pokok gandum di sekitar gubuk kakek tampak indah. Damai rasanya. Beberapa kawanan burung beterbangan dan bernyanyi riang. Ada sungai yang mengalir di antara bebatuan. Airnya jernih, jernih sekali. Kami memancing di sana.

“Kamu mau dengar cerita kakek,” katanya sambil memasang umpan kailnya.

“Cerita apa, kek. Mau dong.”

Sejenak ia melirik ke arahku. “Nah, itu baru cucu kakek,” katanya tersenyum sehingga kumisnya tampak melebar ke samping.

Beginilah cerita kakek.

Adalah seorang penabur keluar untuk menabur di pagi hari. Saat ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.

Tiba-tiba…

“Oupssss…!” Kakek berseru seraya menarik badannya ke belakang.

“Lihat apa yang kakek dapat, ikannya besar sekali.” Katanya dengan bangga.

“Wah, kakek hebat!”

Sudah sore. Kami pun pulang.

“Trus, lanjutan ceritanya bagaimana kek,” tanyaku penasaran ingin tahu lanjutan ceritanya ketika memancaing tadi siang.

“Lho, kamu masih ingat? Nah, sebaiknya kita santap dulu ikan bakar buatan kakek ini,” katanya tertawa lagi.

“Boleh, kek,” kusambut dengan melahap ikan bakar yang rasanya sangat lezat.

“Enak benar ya, kek.” Pujiku.

“Siapa dulu dong yang mancing dan memasaknya.” Balas kakek dengan bangga. Aku tambah satu ekor lagi. Enak dan nikmat sekali. Perutku sungguh kenyang jadinya.

***

”Deri, Deri, Deri! Bangun. Kamu nggak sekolah !” Kubuka mataku. Ibu sudah berdiri di depanku.

“Dasar pemalas! Kamu nggak lihat itu jam berapa!”

“Wah, telat nih.” Sudah pukul delapan pagi. Setelah mandi dan pakaian, aku pun segera pergi.

“Kamu nggak sarapan dulu, Deri?” Tanya ibu. “Udah, bu. Tadi makan ikan bakar buatan kakek.” Tak sadar aku menjawabya, ibu lalu diam dan menggaruk kepalanya.*

Categories: FICTION
  1. 23 October 2007 at 5:38 am | #1

    Mawar, kupu2, gandum, bunga matahari, gubug, sungai berbatu dengan ikan yang besar2, bahkan susu coklat dan roti bakar. Dimanakah si Deri tinggal?

    Ia ada di sebuah negeri impian. kamu mau ke sana? maka dengarkanlah cerita kakek…
    heheh…

  2. ann!sha
    23 October 2007 at 10:20 am | #2

    negeri impian? ga realis :) tapi kan saya penggemar yang ga realis2 itu. ikut dong kek.

    saya baru mudeng, anda adalah andres5freets. could we b friend?

    imajinasimu jauh ‘menelanjangi’ dirimu sendiri. makanya, untuk orang seperti aku, sulit untuk menangkapnya. aku sudah mulai kenal siapa kamu sekarang…

  3. ann!sha
    23 October 2007 at 11:33 am | #3

    I ll take that as a NO. Thx.

  4. 24 December 2007 at 9:29 am | #4

    just to make it crowder..
    sometimes life seems not real..
    but the unreal itself is real..
    so nothing is unreal