[The Muse: Tonggo Simangunsong; Aceh Singkil]
First published on Harian Global, 11 Nov ‘07.
Pagi menjelang siang, hari itu Rabu (31/10) di Kabupaten Aceh Singkil, cuaca serasa tak bersahabat. Seandainya rintik-rintik hujan tidak turun saat itu, barangkali perjalanan dengan perahu boat menuju Desa Kuala Baru yang jauh-jauh hari sudah direncanakan itu akan lebih seru dan mengasyikkan.
Sayang, langit tetap tampak kelabu. Tak tampak awan biru indah bercampur dengan hijau pepohonan di sekitar pinggiran Sungai Singkil yang sejak sehari sebelumnya sudah dinanti-nantikan para fotografer yang ingin mengabadikan bagian bumi Aceh Singkil itu. Tak berubah. Langit tetap mendung.
Meski demikian, cuaca mendung bercampur gerimis itu bukanlah menjadi rintangan yang cukup berarti. Ini akan menjadi perjalanan yang mengasyikkan, kata sebagian peserta tanpa menghiraukan cuaca hari itu. Sebaliknya, “Sayang, cuaca Aceh kali ini serasa tak bersahabat dengan kita,”cetus seorang fotografer lagi.
Dan inilah kesan yang terekam di Aceh Singkil pagi itu, ketika rombongan memasuki pintu gerbang Sungai Singkil menuju Kuala Baru – setidaknya jika melihat raut wajah sebagian masyarakat Aceh Singkil. Apa itu? Tak lain adalah: antusiasme.
Mereka tampak antusias dengan kehadiran rombongan pejabat pemerintahan setempat, terutama Bupati Aceh Singkil, Makmursyah Putra SH MM. Beberapa ibu-ibu beserta anaknya tampak rela bertengger berhimpitan di atas kapal dengan payung atau dengan kain pelindung kepala seadanya. Sesekali mereka pun melambaikan tangannya, mununjuk-nunjuk kepada sang bupati.
Sejak pagi mereka sudah datang berduyun-duyun memadati sebuah tempat keberangkatan di tepi Sungai Singkil, yang lokasinya tak jauh dari makam Syehk Abdurauf (konon dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di wilayah Aceh Singkil), khususnya di Kabupaten Singkil sendiri.
Wajar saja, bukan hanya sang bupati yang hadir dalam rombongan kali itu. Selain rombongan dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) pimpinan dr Sofian Tan, juga hadir Sekjen Kebudayaan dan Pariwisata RI Dr Sapta Nirwandar SE, beberapa peneliti dari Jerman. Dan selebihnya adalah beberapa wartawan media cetak dan elektronik Kota Medan, termasuk Harian Global sendiri. Juga beberapa orang utusan dari biro perjalanan (Tour & Travel) Medan.
Di pintu gerbang kedatangan, beberapa peserta bahkan rela diterpa gerimis walau hanya untuk sekadar mengabadikan dirinya dengan pasangan – gadis dan lelaki asli Aceh Singkil– yang tampak apik dengan mengenakan pakaian adat setempat.
***
Perjalanan menuju Kuala Baru dengan menggunakan speedboat memakan waktu hampir satu jam. Setelah melalui alur induk sungai (Sungai Singkil), separuh waktu kemudian, perjalanan diteruskan melalui anak sungai menuju Kuala Baru, yang lebih sempit oleh himpitan pepohonan: Sungai Kuala Baru.
Separuh waktu ini, serasa lebih mengasyikkan. Karena, selain karena pemandangan alam yang masih alami, daerah pinggiran Sungai Kuala Baru yang tanpa penduduk masih banyak didiami oleh satwa, seperti kera, dan burung-burung. Bahkan, konon di daerah-daerah tertentu yang memiliki daerah rawa juga terdapat buaya.
Perjalanan menuju Kecamatan Kuala Baru bukan tanpa alasan serius. Wilayah ini adalah salah satu dari 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Singkil, yang oleh pemerintah setempat, direncanakan akan menjadi salah salah satu objek pengembangan ekowisata Aceh Singkil, selain Pulau Banyak.
Penduduknya heterogen. Selain dihuni oleh penduduk suku asli Aceh Singkil, juga didiami sebagian warga keturunan, Pakpak, Minang dan Nias. Sedang, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Melayu Pesisir.
Kecamatan Kuala Baru diduduki oleh empat desa: Kuala Baru Laut, Kuala Baru Sungai, Kayu Menang dan Suka Jaya, dengan jumlah penduduknya sekitar 6.000 jiwa. Mayoritas (80 persen) bekerja sebagai nelayan. Selain untuk dikonsumsi sendiri, ikan-ikan hasil tangkapan mereka dijual ke Muara Kuala Baru, pasar ikan setempat. Atau, sekali seminggu diangkut ke Singkil. Selain melaut, selebihnya mereka adalah petani.
Sendi-sendi perekonomian Kecamatan Kuala Baru sejauh ini memang belum begitu menggeliat. Ini bisa saja dikarenakan oleh satu faktor terpenting, yakini akses transportasi yang masih terbatas, yang hanya melalui sungai. Sehingga potensi alam yang ada di wilayah kecil di sebelah Timur Samudera Indonesia itu belum dapat terakses dengan optimal ke luar daerah.
Barangkali karena itu juga pendapatan perkapita masyarakat setempat masih tergolong rendah. Menurut penuturan Kepala Desa Kuala Baru, Safnil, jumlahnya sekitar Rp 300 ribu, per bulan per KK. “Seperti yang pernah kami persentasekan, angka ini masih sangat jauh dari cukup,” katanya.
Camat Kuala Baru, Ahmad Rifai, tidak menepis anggapan itu. Bila dirata-ratakan sebenarnya masih minim, katanya. “Pada umumnya memang masih rendah. Tapi, sewaktu-waktu bisa juga meningkat jika sewaktu-waktu hasil tangkapan di laut banyak,” jelasnya.
Rifai menjelaskan, sebenarnya jika akses lewat darat menuju Kuala Baru sudah berdiri, kemungkinan besar perekonomian rakyat akan terdongkrak. Sebab, jalur perdagangan juga otomatis akan terdongkrak. “Sayangnya, ketika akses itu akan dibangun beberapa tahun lalu, tsunami datang melanda,” katanya. Sehingga pembangunannya hingga kini masih terbengkalai.
Dijelaskannya lagi, akses darat menuju Kuala Baru sebenarnya bisa ditempuh lewat wilayah Silanga (Singkil) – Kayu Menang – Kuala Baru. “Saya yakin, jika akses ini sudah terbangun, potensi yang ada di Kuala Baru akan lebih terdongkrak, selain adanya program pengembangan ekowisata ini,” tambahnya.
***
Tak jauh beda dengan Pulau Banyak yang terdiri dari 99 pulau kecil dengan panorama pantai yang eksotis, Kuala Baru juga memiliki potensi yang tak kalah indah. Jika selama ini Singkil masih diidentikkan dengan panorama Pulau Banyak, maka ke depan daerah Rawa Singkil, Kabupaten Pulau Baru, akan menjadi ikon kedua objek wisata, bertajuk ekowisata.
Kapan hal itu akan terelisasi? “Awal 2008 akan segera dimulai. Dan 2010 sudah mulai berjalan,” jelas Makmursyah optimis.
Rawa Singkil adalah salah satu wilayah yang menjadi fokus ekowisata Kuala Baru. Ini dikarenakan oleh alamnya yang masih “perawan” dan memiliki tantangan tersendiri bagi para pelancong yang menyukai wisata petualangan, ujar Mahmud Bangkaru, staff ahli pariwisata di Badan Pengelola Kepulauan Sabang (BPKS), badan yang juga menjadi pengelola pengembangan kawasan Pulau Banyak.
Makmursyah bahkan telah berjanji akan mendirikan cottage khusus bagi para peneliti yang serius ingin menggali dan mengembangkan potensi yang terpendam di Rawa Singkil.
Sayangnya, program ini masih berbau skeptis dari beberapa kalangan, termasuk pelaku wisata sendiri. Salah satu faktornya adalah, akses jalan menuju Kabupaten Aceh Singkil yang belum strategis, khususnya dari daerah strategis juga. Dari Medan misalnya, yang menelan waktu tempuh selama hampir 9 jam.
Belum lagi, masalah minimnya sarana fasilitas pengunjang wisata lainnya, seperti hotel dan rumah makan yang memadai. Juga fasilitas keamanan dan kepastian hukum yang berlaku di daerah setempat.
Daerman Damanik, salah seorang “tourist guide” dari biro wisata Bravo Tour & Travel Medan berpendapat, masih perlu waktu lama untuk mewujudkan Kuala Baru sebagai objek ekowisata. “Untuk wisata petualangan, potensinya bagus. Tapi, saya menilai masih butuh waktu untuk mewujudkannya,” komentarnya.
Hal senada juga dikatakan James Jumakir, tour manager biro wisata Trijaya Tour & Travel Medan, “Panorama alamnya sebenarnya mendukung untuk paket wisata adventure. Hanya saja, akses ke Singkil masih jauh dan lama, sehingga kemungkinan besar orang akan memilih objek wisata lain, “ujarnya.
Makmursyah tak menampis permasalahan itu. “Itu benar. Tapi hal itu akan segera terastasi jika nanti bandara di Kuala Baru akan berdiri. Secepatnya, tergetnya 2010,” ujarnya optimis. Ia menambahkan, program ekowisata di Kuala Baru tak lepas kaitannya denga upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Seperti yang diutarakan Sofian Tan, “Jika kelak program ekowisata di Kuala Baru bisa terwujud, otomatis geliat perekonomian masyarakat setempat akan terdongkrak.” Prosesnya? Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.*
Foto-foto: Tonggo Simangunsong





16 Comments
4 June 2008 at 9:32 pm
terima kasih kepada penulis yg telah membuat blog ni…
saya sbagai putra asli aceh singkil sangat bangga dengan kuala baru.
kuala baru merupakan salah satu tempat yg cocok dijadikan tempat wisata nantinya. karna kuala baru mempunyai khas tersendiri. semoga pemerintah aceh singkil dapat bekerja ekstra dalam melindungi kuala baru.
btw, foto yg d atas itu adlah junior ku pas sma dulu, dan d sebelahnya adalah guru2ku tersayang waktu sma dulu…
sekali lg terima kasih kepada penulis….
4 June 2008 at 9:38 pm
aq boleh minta foto yg d paling atas…
foto guru n teman2 ku….
klo bisa, kirim k email saya:
moevie_levi@yahoo.com
kalo pemerintah aceh singkil membutuhkan seorang arsitek untuk merancang tempat wisata yang akan d buat d kuala baru, saya bersedia..tugas akhir saya adalah tempat wisata d pulau banyak….tp, klo kuala baru akan d jadikan tempat wisata, kemungkinan besar saya akan mengambil judul itu, ..hahahhah…sekalian promosi,,,,
saya asli putra aceh singkil…
aceh singkil jaya….
6 June 2008 at 12:07 am
hahahha…..
jangan lupa bang!!!!
makasih bang…..
3 October 2008 at 7:36 pm
bang mangunsong…
kalo ke “aceh” singkil lagi tolooooong diekpos juga emek-emak n nenek penyelam hebat pencari lokan,……. mereka mampu menyelam tanpa peralatan selam kedasar sungai sampai kedalaman enam meter……., kalo ada yang berminat dapat diangkat di EAGLE AWARD metrotv……..,
mereka wanita PEMBERANI yang mencari nafkah buat anak2nya walau terkadang SANG BUAYA SIAP MENERKAMMM….. tq. hasmirimo@yahoo.co.id
13 January 2009 at 10:30 pm
terima kasih kepada abang – abang yng telah mempublikasikan aceh singkil kepada dunia. pada dasarnya aceh singkil hanya dipandang sebelah mata karena lokasinya yang sulit dipedalaman. saya mengharapkan supaya pemerintah lebih memperhatikan lagi nasib masyarakat ADAT singkil yang “tidak terselamatkan nasibnya”
terima kasih,
22 February 2009 at 1:16 am
Ttip slm ma Arma Wati Sahrina PuTri harum spanjang Mewangi stiap hari,
10 March 2009 at 11:50 am
Saya anak KUBA, sekarang sekolah di Pidie, Saya berharap tentang masa depan KUBA bukan sekedar janji, tapi bukti………..
30 April 2009 at 11:46 pm
saya anak kuba,skrng kuliah di padang.aku setuju sama bisril hadi jangan haya janji tetapi bukti…………..
ayo anak2 kuba maju trus pantang mundur..?????????
2 May 2009 at 2:15 pm
saya anak kuba,aq setuju dgn bisril hadi jgn hanya janji tetapi bukti…….
ayok anak2 kuba maju terus….
25 May 2009 at 12:06 pm
yang anak kuba!!!!!!!!!
sapo tando si azmal?????
klo tau, brp no hapenyo?????
21 June 2009 at 10:02 pm
pa kbr na singkil skrang ya………….foto adat nikah tu lagi dimana.o.a anak singkil kapan buat acara khusus remaja aceh singkil??????
30 June 2009 at 10:27 pm
ayok bersama kita gali potensi yang ada di daerah kita…terutama kebudayaan.supaya punya harga jual yang tinggi.okecoyyy.oke yo
30 June 2009 at 10:31 pm
pabilo bukak jalan singkil>kuala baru…..
7 September 2009 at 12:04 pm
Maju tyus Aceh singkil!!! Jngn kalah dngn s.salam,,0ke..
28 October 2009 at 9:49 am
AMBO ANAK KUBA, MARI ANAK KUBA, KITO BANGUN KUALA BARU ITU!!!!!!!!!!!
30 October 2009 at 10:34 am
mari anak kuba semua kita bersatu untuk membangun kuala baru,kuala baru yang akan datang lebih baik dari pada hari ini. . . .