29 November 2007...11:35 am

Ke Kota Demi Impian…

Jump to Comments

[The Muse; Tonggo Simangunsong]

heronimusSenyum Heronimus Zebua terpancar lepas apa adanya ketika ia tiba dan turun dari sepedanya di Kampus Fakultas Ilmu Kehutanan Universitas Utara (USU). Ia baru saja mengikuti perkuliahan sore itu. Wajahnya kelihatan letih. Setelah melepaskan ranselnya yang tampak gempal berisi buku dan pakaian, dengan ramah ia pun menyalami kami, yang sudah menunggunya.

Heronimus Zebua, 24 tahun, adalah anak keenam dari pasangan suami istri Baziduhu Zebua dan Maryati Ziluwu, yang kini bekerja sebagai buruh di pabrik kelapa sawit di Kota Padang, Sumatera Barat, setelah sebelumnya menetap lama di Gunung Sitoli, Nias.

Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, Heronimus tergolong anak yang cerdas dan memiliki kelebihan dibanding kelima saudaranya. Ketika duduk di bangku SMU ia selalu mendapat ranking 1 umum sejak kelas 1 sampai kelas 3.

Inilah motivasi yang mengawali mimpi Heronimus untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas. Apalagi ketika AR Hia, gurunya di sekolah itu, sejak lama telah memotivasinya untuk jangan menyia-nyiakan kecerdasannya itu. Juga ketika, lelaki kelahiran Gunung Sitoli, 10 Februari 1984 ini mendengar bahwa ia lulus testing PMP (Pemanduan Minat dan Prestasi) yang diadakan oleh USU pada 2004.

“Saya sangat bahagia waktu itu,” kenangnya. Maka dengan modal uang Rp 700 ribu, yang adalah beasisiwa bagi siswa teladan yang ia dapat dari sekolahnya SMU Pemda 2 Gunung Sitoli, ia pun mengemasi ranselnya dan berangkat ke ibukota Sumatera Utara.

Dengan jumlah uang yang terbatas itu, Heronimus pun tak bisa berbuat banyak. Ketika mendaftarkan dirinya ke USU, ia sempat terduduk lemas setelah mendengar biaya administrasi yang harus ia bayar mencapai Rp 2 juta lebih.

“Saya sempat berpikir untuk mengurungkan niat saya untuk kuliah. Dan memilih untuk bekerja saja,” kenangnya lagi. “Tapi ketika waktu pembayaran, kepada petugas administrasi saya mengaku jujur. Saya katakan uang saya tak ada, karena orangtua saya tidak mampu, “katanya.

Kejujuran itu setidaknya membuahkan hasil. Setelah meminta rekomendasi kepada Biro Rektorat USU, ia pun diberi keringanan untuk melunasinya selama dua bulan. Ia pun memulai perkuliahannya. “Saya pikir waktu itu, saya tidak jadi kuliah,” katanya tertawa kecil.

Kakak kelas yang baik

Meski telah diberi keringan, toh Heronimus tak bisa melunasi uang kuliah yang baginya berjumlah tak sedikit itu sesuai jadwal, walau ia menyambi menarik becak dan menjadi kuli bangunan. Wajar, upahnya sebagai kuli bangunan hanya Rp 15 ribu. Sedang jika ia menarik becak, terkadang hanya pas untuk biaya makan sehari.

Namun, nasib baik kembali datang padanya. Suatu ketika, seorang senior di kampusnya melihat Heronimus merenung di kampus. Sang kakak kelas lalu menanyakannya masalah apa gerangan yang sedang dihadapinya sehingga ia tampak gelisah. Awalnya Heronimus tak mau terus terang, hingga akhirnya ia mengaku kalau ia tidak akan melanjutkan kuliahnya lagi karena tidak sanggup membayar uang kuliah.

Hari itu juga ia diajak seniornya untuk masuk ke kelas. Di dalam kelas, seniornya tersebut mengatakan bahwa Heronimus membutuhkan bantuan untuk biaya kuliah. Dan mereka pun menyepakatinya untuk mengumpulkan sumbangan.

“Saya nggak menyangka kalau abang itu (kakak kelas- Red) mengatakan hal itu kepada teman-temannya,” ujarnya. Seminggu kemudian sang kakak kelas memberinya uang hampir Rp 1 juta yang berasal dari sumbangan rekan mahasiswa, yang kemudian ia gunakan untuk mencicil uang kuliah. Heronimus pun bisa sedikit menarik nafas lega dan kuliah lagi.

Lantas, bagaimana Heronimus melunasi uang kuliah pada semester-semester selanjutnya? Sementara ia tak tega meminta dari orangtua yang berpenghasilan pas-pasan. “Pernah sekali saya minta dari orangtua, setelah itu saya tidak sampai hati,” ujarnya.

“Untunglah saya sering mendapat beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik—Red),” katanya. Maka dengan modal beasiswa yang jumlahnya Rp 300 ribu per 3 bulan itu, ditambah dengan sejumlah uang yang ia kumpulkan selama menyambi kerja, ia pun bertahan hingga kini.

“Juli kemarin, saya dapat Rp 1, 2 juta. Begitu dapat, langsung saya lunasi uang kuliah,” katanya. Sedang untuk urusan tempat tinggal, selain sering menumpang di rumah sang paman, Heronimus terpaksa sering berpindah-pindah menumpang dari kos ke kos teman-temannya. “Kalau makan, kadang sehari sekali. Sudah biasa,” katanya.

Selama tinggal di Medan, Heronimus menumpang di rumah pamannya di Jalan Kampung Durian, Medan.“Saya sangat berterimakasih pada paman saya yang mau memberikan tumpangan pada saya selama ini,”ujarnya. Selain itu, ia juga sering mendapat tumpangan dari teman-temannya yang berbaik hati padanya.

Meski demikian, Heronimus termasuk orang yang tahu diri. “Saya tidak ingin merepotkan paman saya. Juga tidak ingin membebani teman-teman saya,” katanya. Sesekali, Heronimus sengaja tidak pulang ke rumah pamannya dengan alasan bekerja dan kuliah.

Kepada temannya-temannya pun demikian. Walau tak bisa membalas dengan materi Heronimus pun dengan rela membantu mengerjakan tugas-tugas jurnal kampus teman-temannya yang mau memberikan tumpangan padanya. “Dengan itulah saya mampu membalas kebaikan mereka,” katanya.

Sepeda kesayangan

Dengan kemampuan materi yang terbatas, Heronimus tak bisa mengikuti setiap langkah rekan mahasiswa lainnya, yang barangkali lebih berada dengan fasilitas yang mendukung. Jangankan untuk nongkrong di warung kopi, bagi Heronimus waktu sangatlah berharga. Dan sia-sia untuk dilewatkan tanpa aktivitas: menyambi kerja atau kuliah.

“Kalau ada waktu kosong, saya narik becak. Kalau ada yang ngajak kuli bangunan, juga saya kerjakan. Yang penting bisa bertahan. Sebaliknya, kalau kuliah padat, terpaksa saya sering menahan lapar karena tidak ada uang,” katanya.

Untuk mengakali biaya pengeluaran, ia pun selalu naik sepeda setiap pergi ke mana-mana. “Sepeda ini saya beli dengan uang beasiswa yang saya dapat di SMU dulu,” kata lelaki yang di masa awal kuliah, mengaku dalam sehari paling tidak mengayuh sepeda sepanjang 28 – 30 kilometer (Kampung Durian – USU).

“Rumah paman saya kan jauh dari USU, kalau naik angkot kan banyak biaya. Sepeda inilah teman saya tiap hari,” ujarnya.

Akhir-akhir ini Heronimus tampak lebih sibuk hari-hari kuliah sebelumnya. Kini ia memasuki semester 7. Dan sedang melakukan penelitian, sesuai dengan proposal judul skripsi yang telah disetujui dosennya, yaitu: “Keanekaragaman Cencawan Mikrozarbustular”, dengan lokasi penelitian di wilayah hutan Sinabung, Karo.

Prestasi akademisnya memuaskan, dengan indeks prestasi (IP) per semester dan indeks prestasi komulatif (IPK) di atas 3,5. “Untuk semester ini IP saya 3,88. Jadi kalau dirata-ratakan dengan semester-semester sebelumnya, IPK 3,6,” jelasnya.

Namun, penelitan yang sudah dimulai sejak Juli kemarin sering terkendala oleh biaya yang tak sedikit. “Saya mau ngumpulkan uang dulu. Baru nanti perlahan-lahan saya kerjakan secepatnya,” katanya.

HP ini aku dapat di jalan…

Dari kejauhan Heronimus Zebua menjawab ramah lewat ponselnya, ia sedang kuliah praktikum dan baru setengah jam lagi pulang. “Bolehkan kami jumpa kamu sore ini?” Ia pun menjawab lagi, boleh… Sore itu, kami pun menemui dan berbicang-bincang tentang kisah suka dan dukanya selama kuliah di Kampus Fakultas Ilmu Kehutanan USU Medan itu.

Kisah yang mengharukan, demikianlah adanya kisah Heronimus. Matanya tampak memerah ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kisah hidupnya. Tapi, selalu saja ia mampu membendung air mata yang akan mengalir ke pipinya. Sesekali, ia pun tersenyum. Bahkan juga tertawa lepas ketika mengenang masa-masa bahagia ketika meraih prestasinya.

“Saya yakin, Tuhan beserta saya,” ujarnya optimis.

Impian untuk kuliah, sekaligus telah memisahkan ia dengan kedua orangtuanya. ”Sejak 2004, ketika memasuki perkuliahan sampai sekarang saya tidak pernah lagi bertemu dengan ayah, ibu dan saudara-saudara saya. Terakhir ketemu saat masih di Nias sekitar tiga tahun yang lalu,” ingatnya.

Mereka lalu berpisah pada waktu yang bersamaan. Di saat Heronimus berangkat ke Medan, ayah dan ibu serta dua orang saudaranya juga pergi merantau ke Padang untuk bekerja sebagai di buruh pabrik kelapa sawit. Sedang, seorang saudaranya lagi berada di Jakarta. Dan dua adiknya diasuh oleh saudara ayahnya yang berada di Nias.

“Ayah dan ibu pindah ke Padang dengan membawa kedua saudara saya. Sementara saudara yang lain juga jauh dari saya. Terus terang saya sangat rindu pada mereka. Mau pulang Nias saat liburan kuliah tidak mungkin. Karena pada waktu itulah saya bisa bekerja mencari tambahan biaya kuliah,” sebutnya.

Untuk melepas kerinduan di antara mereka, walau sekadar menanyakan kabar, “Paling lewat telepon,” ujarnya.

Tapi dari manakah handphone itu diperoleh Heronimus? “Jangan salah sangka bang, HP ini sebenarnya aku dapat di jalan… Kalau beli sendiri tidak mungkin, untuk biaya kuliah saja saya sudah kewalahan,” ujarnya tersenyum. “Mungkin inilah rezeki dari Tuhan untuk saya,” ujarnya, sambil menunjukkan handphone model monoponik yang casingnya terlilit dengan dua helai karet pengikat itu.

Begitulah kisah Heronimus, yang masih tetap berjuang demi impiannya mengecap pendidikan tinggi. “Biarlah berjalan seiring waktu. Cita-cita saya saat ini hanya ingin menamatkan kuliah dulu,” katanya*.

Discl. Tri Yuwono

5 Comments

  • merdi sihombing

    gille…..gw bangga bgt dgn Heronimus…terus maju gapai cita2mu stinggi-tingginya.Smoga terwujud impianmu…….

    Lae Tonggo…keren bgt tulisanmu, smp2 aq terharu.
    I’m proud of u

    Aku hanya menyampaikan apa adanya. Heronimus memang pantas jadi teladan, yang gigih menggapai impiannya.
    Btw, Lae Merdi katenye makin sukses aje, ye.. (logat Jakarte..) Hehhe.. Betul ga tuh..?

  • Makkk…sampe mau manetek ilu ku puang, lae…berkaca-kaca..tapi ku tahan, malu diliat kawan pulak. Jadi ingat masa aku merana dulu, amang tahee. :(
    Akkh tak terkatakan..bro Heronimus, semangat selalu lae.
    May GOD bless u…amen.

  • merdi sihombing

    santabi laeku….baru bisa buka email barusan aja abis bubaran
    show selama 5 hari di jcc acara gelar tenun tradisional.
    sukses bgt2 sih belum lah,doakan aja biar semua yg kukerjakan u sumut bisa kelihatan nantinya.btw akhir tahun aku di bonapasogit smp awal januari.

  • what a touchy story?
    gak nyangka nih brother makin membumi.
    i love the way you write.
    mesti belajar banyak darimu bro.
    keep showing the real medan, the real indonesia

  • yg bgini biasanya bibit sukses..
    tinggi yo IPK nya…


Leave a Reply