[The Muse; Tonggo Simangunsong]
First published on Harian Global [30/3/'08]
Zepanya, bocah berumur tujuh tahun itu, sepertinya sudah lupa masa lalunya. Sore itu, ia tampak ceria bermain-main dengan anak-anak lain di panti asuhan itu. Tapi ketika ditanya, apakah ia masih ingat bagaimana raut muka ayah dan ibunya, ia menggangguk. Rindu dengan mereka? “Rindu, bang,” ujar bocah yatim piatu itu tersenyum polos.
Tak ada cemberut di antara wajah anak-anak penghuni Panti Asuhan Yayasan Taman Getsemane Kasih (PAYTGK) di Jalan Kawat 3 Tanjung Mulia itu. Sore itu, Senin (24/03), ketika The Muse mengunjunginya, mereka tampak sedang sibuk mengupasi kulit ari bawang merah yang siap untuk dijual. Sesekali, mereka bercanda satu sama lain.
Anak-anak ini tampak bekerja cukup cepat. Dalam empat jam mereka bisa mengupas bawang merah sebanyak 150-200 -an kilogram. “Sebenarnya kurang banyak ini, bang,” ujar Markus Giawa, satu di antara mereka. Sore itu, lelaki berusia 15 tahun itu telah mengupasi kulit ari bawang merah sebanyak empat kilogram dalam waktu kurang dari sejam.
Akhir-akhir ini, jumlah bawang merah yang datang dari tauke ke panti asuhan memang tak sebanyak biasanya, bila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Hari itu yang datang hanya 150 kilogram. “Biasanya, 200 – 250 kilogram,” ujar Markus.
Wajar memang bila Markus berkata “kurang banyak”. Soalnya, perkilonya, mereka biasanya hanya akan mendapat upah Rp 150 dari tauke bawang yang bersangkutan. Nah, kalau dikalikan sepuluh kilo saja, mereka masih mendapat Rp 1.500. tapi, uang itu bukan untuk mereka kantongi.
Soalnya, uang itulah yang nantinya mereka kumpulkan. Lalu, mereka gunakan untuk menambahi biaya kebutuhan mereka di panti asuhan itu. Termasuk untuk keperluan makanan, sekolah, pakaian, ongkos ke sekolah dan kebutuhan lainnya.
Zepanya dan Markus hanyalah dua dari 72 anak yang tinggal di PAYTGK. Dan, sebagian besar anak yang tinggal di panti asuhan ini berasal dari Nias, yang datang dari latar belakang yang berbeda.
Sebagian besar anak anak-anak ini adalah korban bencana alam gempa bumi (tsunami), yang terjadi pada Maret 2005 lalu. Dan sebagian kecil lainnya merupakan korban bencana alam tanah longsor dan banjir yang terjadi pada akhir 2002 silam.
***
Bagaimana panti asuhan ini berdiri sejak Agustus 2004 lalu dan “hidup” sampai saat ini, sebenarnya, adalah hal yang tak pernah dibayangkan dan direncanakan samasekali oleh Pendeta Cornelius Simangunsong bersama istrinya H Boru Simanjuntak, pendiri panti asuhan itu.
Seperti penuturan Cornelius, ide untuk mendirikan panti asuhan ini berawal dari keberangkatannya pada 2002 ke Nias. Saat itu, bencana tanah longsor dan banjir telah menelan banyak korban. “Itulah yang memotivasi saya untuk berangkat ke sana,” jelas pendeta yang melayani di sebuah gereja kecil, yang lokasinya tepat di samping panti asuhan itu.
“Setibanya di sana, saya melihat hal sangat memprihatinkan,” katanya. Tanah longsor dan banjir telah mengakibatkan banyak penduduk kehilangan tempat tinggal mereka. Lahan pertanian rusak. Perekonomian lumpuh. Banyak penduduk mengungsi dan kehilangan anggota keluarganya. Termasuk anak-anak.
Dan, tak sedikit di antara korban yang meninggalkan daerah mereka tanpa sempat membawa serta anak-anak mereka. Juga, ada sebagian yang menitipkan anak-anaknya kepada sanak saudaranya. “Sehingga banyak anak-anak yang ditinggalkan kehilangan perhatian dan kasih sayang,” sambungnya.
“Saya kasihan melihat mereka,” kata Cornelius. Dari situlah motivasi itu muncul. Rekannya, sesama pendeta yang juga datang ke Nias saat itu, lantas memintanya untuk membawa anak-anak itu untuk diasuh di Medan. Pasalnya, sebagian besar anak – anak ini telah ditinggal oleh orangtuanya. “Mereka terlantar. Dan tidak bersekolah,”
Namun, rasa iba Cornelius sempat tertahan. Alasanya, (jelas) adalah biaya. “Bagaimana mungkin? Bagaimana caranya?” Hingga, sekembalinya ke Medan, ia belum bisa berbuat apa-apa selain merasa sedih karena keterbatasannya itu.
Namun, keterbatasan itu tak menghalangi Cornelius. Kecemasan Cornelius setidaknya mulai tertolong ketika usulnya untuk mendapat bantuan dari Dinas Sosial, sebesar Rp 2.200 setiap hari untuk seorang anak, mendapat respon dari pemerintah.
Maka, ia pun kembali ke Nias. Dan pulang ke Medan dengan membawa 10 anak. Dan bersama istrinya, H Simanjuntak yang seorang guru agama di sebuah sekolah dasar mulai mengasuh kesepuluh anak itu.
Tak lama kemudian, 20 anak lagi didatangkan atas permohonan pendeta dan warga, yang mayoritas tinggal di pedalaman Nias Selatan itu. Meski awalnya merasa tidak sanggup untuk mengasuh dan menghidupinya, namun akhirnya Cornelius menerima permohonan itu. “Saya tak mungkin menyuruh mereka kembali ke Nias,” katanya.
***
Pada 28 maret 2005, bencana kembali mengguncang P Nias, yang menelan banyak korban jiwa dan kerugian materi. Lebih mengerikan dari sebelumnya, bencana juga mengakibatkan banyak penduduk yang kehilangan tempat tinggalnya.
“Saya melihat peristiwa itu dari TV, dan merasa sangat sedih. Maka, saya kembali mengunjungi P Nias. Banyak penduduk kehilangan tempat tinggalnya. Juga, anak-anak kehilangan orangtuanya. Dan meminta agar ikut ke Medan,” tulis Cornelius dalam sebuah catatan yang mengisahkan sejarah berdirinya panti asuhan itu.
Tetapi pada saat itu, tulis Cornelius, ia hanya dapat membawa beberapa anak saja. Alasannya, “Saat itu saya berpikir dimana anak-anak ini akan tinggal. Masalah lain, saya juga tidak mempunyai biaya untuk membawa mereka. Juga tempat tinggal yang terbatas,” jelas Cornelius.
Tetapi, tak beberapa lama kemudian sekembalinya Cornelius dari Nias, tak sedikit pendeta P Nias membawa anak-anak itu ke Medan. “Saya menjadi bingung. Bagaimana ini? Di mana mereka harus tinggal nanti? Dan bagaimana saya dapat memenuhi kebutuhan mereka nantinya?,” Cornelius khawatir.
Meski begitu, ia menerima sebahagian dari mereka. Dan sebagian lagi, katanya, dengan perasaan sedih dan menyesal, harus dipulangkan kembali ke kampung halaman mereka.
Begitulah bagaimana panti asuhan berdiri sejak awal, seperti yang dituliskan Cornelius. Juga dari penuturan sang istri dan Samuel Alfredo Simangunsong, salah seorang anaknya, yang sehari-hari juga ikut mengelola panti asuhan itu.
“Untunglah banyak orang-orang yang peduli. Sehingga, panti asuhan ini bisa berdiri sampai sekarang,” ujar Samuel. Bantuan mereka itu, kata Samuel, selain digunakan untuk membenahi bangunan panti asuhan yang awalnya masih sangat sederhana, juga dipakai untuk membiayai biaya sekolah anak-anak.
Saat ini, setidaknya ada 60-an anak dari panti asuhan ini yang sekolah. Menurut Samuel, ada 50 –an anak duduk di bangku SD, 8 di SMP dan seorang di STM. “Untung anak SD dapat biaya BOS, yang dengan susah payah kami urus ke sekolah. Selain itu, biaya sekolah dibiayai panti asuhan. Dan keperluan lainnya,” jelas Samuel.
Namun, ada juga yang tidak mau sekolah. Markus misalnya. “Saya malu sekolah, bang,” katanya. Entah mengapa lelaki pemalu ini merasa minder kalau disuruh sekolah. Ia menolak. Alasannya, “Badan saya terlalu besar. Sedang teman-teman saya masih kecil-kecil,” katanya malu-malu.
Seperti dijelaskan Samuel, masalah ketidakjelasan umur memang sering menjadi kendala ketika hendak mendaftarkan anak-anak ini sekolah. Sebagian anak-anak ini tidak lagi memiliki identitas. Misalnya, akte kelahiran. Sehingga ketika mendaftarkan ke sekolah, bingung menentukan umur mereka dan kelas yang akan mereka ikuti nantinya.
Seperti kasus Markus misalnya, kata Samuel, yang sepertinya tidak menerima kenyataan ketika ia didudukkan di bangku kelas dua sekolah dasar. Padahal, seperti kata Markus, usianya sudah 15 tahun. “Saya malu, bang,” ulangnya lagi.
“Lebih penting mencari uang?” Ia mengangguk, malu-malu.
Selain Markus, beberapa anak di antaranya tak bisa ikut sekolah karena urusan birokrasi yang rumit. “Kalau tidak ada surat pindah. Dan, akte kelahiran maupun surat keterangan lainnya, pihak sekolah tak mau menerimanya. Ya, terpaksalah kadang-kadang harus ‘disorong’ dulu, baru urusannya bisa lancar,” jelas Samuel.
Selain anak-anak yang merupakan korban bencana alam Nias pada 2002 dan tsunami 2005, ada juga beberapa anak yang menjadi korban penjualan anak, diasuh di panti asuhan ini.
Menurut Samuel, mereka adalah korban jual beli anak yang diserahkan kepada panti oleh pihak kepolisian. “Ada lima anak,” ujarnya seraya menyebut nama-nama anak itu: Ishak Gembira, Ashok, A Hok, A Sen dan Cincin. Kelimanya masih balita.
“Sudah 2,5 tahun lebih kami kelima anak itu diasuh di sini. Tapi, sejauh ini belum ada pihak keluarga maupun orangtuanya yang datang menjenguk mereka. Kasihan mereka,” ujar Samuel. Masa depan mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita, tambah Samuel.
***
Pendidikan adalah satu hal yang menjadi visi panti asuhan. “Setidaknya mereka memiliki keterampilan. Untuk bekal masa depan mereka,” jelas Samuel. Ini jugalah motivasi awal mengapa dulu Cornelius mengawali berdirinya panti asuhan ini sejak awal.
Dan, itulah mengapa sejak lama panti asuhan bercita-cita ingin mendirikan empat unit kelas untuk sarana belajar anak-anak. Setidaknya, panti asuhan ini juga bisa berfungsi sebagai ruang belajar.
“Rencananya, di panti asuhan ini juga mereka bisa belajar. Kami akan mengajak beberapa guru untuk mengajari anak-anak ini. Selain itu, nantinya mereka juga bisa dikontrol di sini dengan intensif,” jelas Samuel.
Namun, upaya itu sejauh ini masih terkendala soal biaya. Biaya yang sudah dikeluarkan oleh yayasan sendiri telah mencapai Rp 44 juta-an. “Uang itu berasal dari donasi orang-orang yang peduli kepada panti asuhan ini,“ kata Samuel.
Menurutnya, itu masih seperempat dari semua biaya yang dibutuhkan. “Untuk itulah, kami membutuhkan bantuan dari pihak mana pun, untuk membantu menjalankan misi pelayanan panti asuhan ini,” katanya.*





6 Comments
1 September 2008 at 4:55 pm
syalom, saya mau mengjar di panti asuhan kristen dengan sukarela tanpa gaji, di sekitar medan, mengajar apa saja, saya s2 dari ITB, mohon dibls, thx. gbu
6 September 2008 at 12:12 pm
sy bsedia mengajar mereka, mengajar apa saja saya bisa seumuran mereka (jika Tuhan menghendaki) tanpa bayaran, hanya pelayanan, basic saya dari s2 itb, jika ada kesempatan mohon hb saya yah..horas..gbu.
9 September 2008 at 3:59 pm
syaloom…
saya butuh informasi panti asuhan Kristen yang ada di Medan..tolong dibagikan kalau tahu ya…Thx..
GOd BlEzzzzzzzzzzz…
27 April 2009 at 2:06 pm
Bpk. Tonggo Yth..
bolehkah saya memperoleh nomor Handphone Contact Person Panti Asuhan Yayasan Taman Getsemane Kasih?
Saya mohon bantuannya agar di email ke email saya.
Trimakasih.
Tuhan Yesus memberkati
26 June 2009 at 1:31 pm
Syalom
Saya rindu ikut telibat dalam pelayanan di panti ini
26 October 2009 at 9:14 am
Pak,
Apakah panti asuhan ini masih berdiri ?
Saya mau mengadakan natal keluarga di december ini dan rencanannya mau mengundang anak panti asuhan ini sekitar 30 orang ? apaka bisa dibantu .
Terima Kasih,
Dwi Ginting