29 April 2008...8:20 am

“Electronic-Music”, Apa Itu?

Jump to Comments

[The Muse; Tonggo Simangunsong]
First published on Harian Global, Medan

Sejak Dr Robert Arthur Moog menemukan perangkat musik bernama “Moog Synthesizer” pada 1953 maka muncul jugalah apa yang disebut “Electronic Music”. Apa itu?

Di Indonesia genre ini masih terdengar asing bagi kalangan awan, barangkali. Tapi sebenarnya, orang-orang di belakangnya tak pernah berhenti berkreativitas seiring majunya teknologi musik dewasa ini.

Berbicara soal musik elektronik di Indonesia, maka akan ada beberapa nama yang sering disebut-sebut menjadi penggiatnya. Mereka di antaranya adalah Otto Sidharta, Franki Raden dan Harry Roesli.

Lantas, apakah sebenarnya musik elektronik itu? Ini adalah pertanyaan mendasar untuk memahami apa selanjutnya yang berkaitan dengan musik yang belakangan kian berkembang ini.

Pasalnya, tak sedikit aliran musik baru yang konon berangkat dari genre musik yang satu ini. Sebagian pengamat musik berpendapat, beberapa genre musik bernuansa “Dance”, seperti “Techno”, “House”, “Trance”, “Breakbeat”, “Synth Pop” memiliki latar belakang “Electronic Music”.

Menurut pandangan etnomusikolog Ben M Pasaribu, MA Dipl SIT, pada dasarnya musik elekronik mengeksplorasi keragaman sumber bunyi natural maupun artifisial dengan proses elektronik.

Ben Pasaribu menjelaskan lagi, dalam penyajiannya musik elektronik biasanya diperdengarkan dengan konsep “live performance” maupun “playback”.

“Namun, dalam konteks gagasan dan konsep kompositoris penciptanya, musik elektronik juga dapat ditampilkan dengan atau tanpa instrumen musik yang konvensional,” katanya.

Posisi musik elektro-akustik dalam konstelasi perkembangan musik dunia sebenarnya berawal setelah ada berbagai penemuan perangkat elektronik yang berkenaan dengan teknologi rekam dan proses akustik

Ini termasuk penemuan instrumen musik “Synthesizer” oleh Dr Robert Moog pada awal abad – 20. Maka, seiring dengan itu muncul pulalah genre baru dalam ragam penciptaan musik dengan berbagai sebutan.

Di antaranya adalah “Musique Concrete”, “Electronic Music”, “Psycho-acoustical Music”, “Computer Music”, “Digital Music” dan sebagainya.

Seiring dengan itu, maka muncul pulalah beberapa penggiatnya. Mereka di antaranya adalah Otto Luening, Vladimir Ussachevsky, Jean-Claude Risset, Joel Chadabe, Leon Dallin, Alvin Lucier, Max Neuhauss. Termasuk kelompok musik “Musica Elektronica Viva”, dari Italia.

Kompilasi “Musik Elektronik” pertama di Medan

Musik elektronik sendiri, sesuai dengan perkembangannya, telah menjadi salah satu elemen penting yang diajarkan dalam perkuliahan Musik Komputer di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNIMED.

Sebagai media ekspresi untuk para mahasisiwa – fakultas ini pun mendirikan wadah untuk aktivitas ekstrakuriler penciptaan karya seni musik, yang semuanya menggunakan komputer dan perangkat elektro-akustik musik.

Tak tanggung-tanggung, FBS UNIMED menamai ruang ekstrakurikuler itu dengan “Robert Moog Computer Music Room”, mengadopsi nama sang penggagas lahirnya musik elektronik itu.

Ben Pasaribu bersama dengan beberapa mahasiswa-i seni musik UNIMED, juga dengan beberapa komposer Medan lainnya saat ini sedang mempersiapkan kompilasi album “Eletronic-Music”.

Beberapa komponis musik yang terlibat di antaranya adalah Panji Suroso Ben M Pasaribu, Mukhlis Hasbullah, Evan Feris, Yulivan Saaba, Junita Batubara, Jekonia Sembiring, Hokkop Situmeang, Ade Irawan, Suharyanto, Muhammad Suheil, Bram Gun , Merdy Roy Togatorop dan Erwin Sianturi.

Panji Suroso dan Mukhlis Hasbullah M Sn dan Evan Feris, S Pd, yang adalah dosen untuk komputer musik di FBS UNIMED bersama-sama menjadi “project officer” dalam persiapan penerbitan CD kompilasi musik elektro-akustik ini.

Apa yang diketengahkan masing-masing komponis dalam kompilasi yang boleh dikatakan adalah kompilasi musik elektronik pertama di Medan ini?

Panji Suroso menjelaskan, pada dasarnya mengadopsi defenisi musik elektronik itu sendiri, pada kompilasi ini para komponis menciptakan musik dengan basis sumber bunyi dari suara alam dan lingkungan yang kemudian di proses secara elektronik dengan pemanfaatan sistem dalam komputer.

“Tak usah jauh-jauh. Di Kota Medan misalnya, kita sering mendengar kebisingan di jalan raya. Tapi, kita sering mengabaikan bunyi itu. Dalam musik elektronik, bunyi itu diulang kembali ke dalam sebuah komposisi yang memiliki elemen musikal, yang diproduksi dengan perangkat software komputer,” katanya.

Lebih lanjut Mukhlis Hasbullah menjelaskan, musik elektronik yang berbasis sumber bunyi dari suara alam dan lingkungan juga sering digunakan untuk “background” musik film, pementasan teater maupun koreografi.

“Kita pasti pernah mendengar percikan air. Tapi, kita mungkin tak mendengarkannya lebih detail. Dalam musik elektronik, percikan air itu direkontruksi kembali ke dalam sebuah komposisi musikal. Biasanya diselaraskan dengan sebuah temanya,” jelas Mukhlis.

Rencananya, peluncuran kompilasi yang mengusung nama “Interdiscipline Arts Development Community and Robert Moog Computer Music Room Music and Dance Department Faculty of Art and Language” itu akan diselenggarakan di UNIMED, 20 Mei mendatang. Ini bertepatan dengan peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional.

Ben Pasaribu selaku “artistic director” mengatakan, acara yang diberi tema “100 Minutes an Electro-Acoustical Music Compilation on Commemoration of 100 Years of Indonesian National Awakening” itu akan memperdengarkan karya 14 komponis berdurasi 100 menit.*

3 Comments


Leave a Reply