Kontemplasi Tiga Perupa Medan tentang “Dunia Atas”, “Dunia Bawah” dan “Dunia Tengah”
Tiga perupa Medan, yakni Heru Maryono, Tetty Mirwa dan Onggal Sihite, Sabtu (24/05) kemarin menggelar pameran bertempat di Galeri Payung Teduh, Jalan Belat No 101 Medan. Pameran seni rupa kali ini mengusung tema “Penciptaan karya seni lukis berbasis prinsip rekonsiliasi dan nilai tradisional”. Pameran yang akan berlangsung hingga 31 Mei mendatang ini, juga diisi dengan dialog seni. Dibawakan oleh Heru Maryono sendiri, yang juga adalah dosen seni rupa Universitas Negeri Medan (Unimed).
Ada sebanyak delapan buah karya yang dipamerkan dalam pameran ini; yang kesemuanya mencoba menvisualisasikan ornamen tradisional, yang dituangkan dalam karya hitam putih dengan media kertas dan spidol.
Penciptaan karya seni lukis berbasis prinsip rekonsiliasi dan nilai tradisional, menurut Heru Maryono, adalah penciptaan yang didasarkan pada penjumpaan adanya persamaan artifak budaya yang menunjukkan adanya keserumpunan konsep di wilayah ujung Barat dan ujung Timur Nusantara.
“Artifak dimaksud bermotif figur bersusun. Masing-masing dijumpai pada patung Asmat dan tongkat ‘Tunggal Panaluan’. Adapun suluran-suluran merupakan motif yang hampir merata dijumpai di setiap suku bangsa Indonesia,” tulis Heru Maryono dalam artikel pengantar pameran.
Heru melanjutkan, kondisi yang sama juga dijumpai pada pemakaian istilah “jiwa ketok” oleh Sudjojono untuk mereaksi lukisan “Mooi Indie”. “Prinsipnya tidak berbeda dengan lahirnya aliran baru dalam seni modernisme di Barat yang selalu mereaksi aliran sebelumnya. Sekalipun demikian, Sudjojono menggunakan istilah lokal,” jelas Heru, ketika menyampaikan pemikirannya pada sesi diskusi seni yang dihadiri beberapa seniman Medan dan sejumlah mahasiswa Unimed itu.
Kebaruan aliran modernisme yang ditempuh dengan jalan mereaksi aliran sebelumnya itu, sambung Heru, dilandasi prinsip dialektik pemikir Jerman G F Hegel yang terdiri atas tesis, antitesis dan sintesis. Kerangka ini memiliki persamaan prinsip dengan mitos “Tri-Buwana, yang terdiri dari “Dunia Atas”, “Dunia Tengah” dan “Dunia Bawah”.
“Asumsinya, kehidupan manusia yeng tertanam dalam ‘Dunia Tengah’ tidak berbeda dengan tesis atau ada. Kematian manusia yang tertanam dalam ‘Dunia Bawah’ tidak berbeda dengan antitesis atau tiada. Terlepasnya roh dari jasad untuk mencapai tingkat kedewaan di alam ‘Dunia Atas’ tidak berbeda dengan sintesis atau menjadi,” jelasnya.
Dalam Ganesa, pemenggalan terhadap manusia dan gajah identik antitesis. Kehidupan manusia dan gajah dalam habitatnya sebagai tesis. Rangkaiannya menjadi Ganesa yang mengemban peran Dewa Kebijaksanaan sebagai sintesis.
Lebih lanjut Heru memaparkan, prinsip dialektik menekankan kebaruan yang berbeda dengan sebelumnya. Misalnya, perbedaan antara Tradisional dan Modernisme, serta Modernisme Kontemporer. Bila melihat susunan “Dunia Atas”, “Dunia Tengah” dan “Dunia Bawah” yang tertuang dalam “Pohon Hayat” sebagai susunan integral, sudah selayaknya pola kesenirupaan yang dibangun juga menunjukkan sifat pengintegrasian antara pola lama dengan pola baru.
“Polanya tidak berbeda dengan ‘Pohon Keturunan’ yang mengasumsikan generasi saat sekarang terlahir dari keberadaan generasi sebelumnya. Kerangka seperti ini perlu dipertimbangkan untuk dijadikan landasan konsep berkesenian,” paparnya.
Makna bermufakat dari kata “rekonsiliasi” sangat serasi dengan persamaan sifat bersusun dari peninggalan etnik yang berbeda, serta ornamen-ornamen sulur-suluran yang hampir ditemui di ragam hias nusantara. “Tetapi berbeda dalam karakater motif dari setiap etnik,” katanya.
Penyatuannya dalam satu corak memungkinkan untuk dilakukan. Untuk itu, penerapan pola transfigurasi atau pengalihan bentuk dipandang sebagai langkah tepat. Selain untuk kepentingan proses kreatif mencari bentuk baru, langkah peniruan terhadap artifak-artifak Nusantara untuk selanjutnya saling dihubungkan, diasumsikan memiliki sifat diskriminatif.
Alasannya, “Karena hasil yang diperoleh akan menunjukkan adanya ornamen dari suku tertentu yang diketengahkan sebagai pusat perhatian dan mengesampingkan yang lain sebagai pelengkap,” tutup Heru.
[The Muse; Tonggo Simangunsong]
First published on Harian Global, 25 May ‘08






KOMENTAR PEMBACA