Tonggo Simangunsong
First published on Medan Weekly, 19-25 September ‘08
Di abad ini, seni telah bergerak semakin luas. Seni, seperti hakikatnya adalah kebebasan ekspresi dan ide tapi dengan tanggungjawab. Barangkali, itu pulalah yang memotivasi lahirnya istilah Performance Art (PA) yang sejak lama didengungkan di Amerika dan Eropa, meski konon masih baru di Indonesia.
Awalnya adalah keheningan. Tapi, keheningan itu segera dipecahkan oleh sekelompok orang yang memainkan serangkaian alat musik. Ada bunyi cimbals, perkusi, block, jenbe, cow, dan taganing yang dipadu dengan “raungan” bunyi elektronik yang menghasilkan ritme yang menggemuruh kencang.
Beberapa detik kemudian, sebanyak delapan perupa mulai merentangkan terpal putih di pelataran beraspal yang telah berubah jadi wilayah pertunjukan. Lalu, tiga koreografer lagi perlahan masuk ke tengah wilayah pertunjukan itu. Ketiganya telanjang dada, hanya mengenakan kain hitam penutup badan bagian bawah.
Kedua tangan mereka tampak ditengadahkan ke arah depan. Masing-masing membawa cawan, ada merah, putih dan hitam. Cawan itu berisi air dan daun beringin. Cawan-cawan itu lalu ditengadahkan ke atas, sementara tubuh dan wajah mereka menunduk. Seakan-akan takut. Tapi, sebenarnya mereka sedang melakukan ritual. Tubuh mereka berkecak. Ekspresif, air dalam cawan itu kemudian disemburkan di segala arah.
Di tengah aksi ketiga koreografer yang sedang memerankan adegan teatrikal itu, delapan perupa yang tadinya merentangkan terpal putih, serta merta memasuki wilayah “pertunjukan”. Masing-masing mulai mengambil bagian untuk menyapukan kuasnya ada terpal putih berukuran 6×9 meter yang telah “menjelma” menjadi kanvas itu.
Musik terus menggema, seakan menjadi pemberi spirit bagi mereka. Belum berhenti. Dengan ekspresinya masing-masing, kedelapan perupa itu pun mulai “menyapukan” kuasnya. Ada banyak aneka warna yang digunakan, merah, putih, hitam, biru, kuning, hijau, berpadu menjadi kesatuan yang saling terkait. Ada goresan spontan atau refleks dan terkadang liar. Hingga akhirnya, seiring dengan berakhirnya musik yang berdurasi selama 10 menit itu, terciptalah sebuah lukisan yang terkesan abstrak.
Lukisan abstrak yang telah jadi itu seakan penanda berakhirnya pertunjukan seni yang dinamai PA bertema “Neo Ritualistic”. Ia sekaligus menjadi penanda awal dibukanya “Painting for Investment Exhibition”, yang digelar di pelataran parkir Deli Plaza Medan. Juga, sekaligus peresmian Rowo Art Galleri yang digagas oleh perupa Medan Anang Sutoto, sore pertengahan bulan lalu.
Kontemporer
“’Neo Ritualistic’ adalah penghimbauan kembali pada publik tentang proses ritual dalam konteks kekinian, yang diadaptasi dari budaya Batak. Ada kehidupan, penyembahan dan kemakmuran. Di dalamnya ada penyembahan dan harapan. Ini diwakili oleh simbol-simbol yang dikombinasikan dengan gerak tubuh dan musik. Maka, jadilah sebuah ritual baru dengan konteks kekinian,” jelas Mangatas Pasaribu, perupa sekaligus salah satu penggagas PA yang melibatkan beberapa seniman Medan dari beragam latar belakang seni itu.
Secara historis, PA telah menjadi salah satu aspek penting dalam seni rupa kontemporer. Dan, “Neo Ritualistic” yang digagas tiga seniman Medan: Mangatas Pasaribu (perupa), Ben Pasaribu (komponis cum etnomusikolog, dan Matheus Suwarsono (koreografer), itu sebenarnya adalah satu dari sekian aksi aksi PA dari kesekian aspek dalam seni rupa abad ini.
Apa sebenarnya PA itu? Istilah ini sebenarnya baru muncul dan dimengerti secara luas pada 1960-an dengan beberapa penggeraknya, seperti Yves Klein, Vito Acconci, Hermann Nitsch, Chris Burden, Carolee Schneemann, Yoko Ono, Joseph Beuys, Wolf Vostell dan Allan Kaprow, yang melahirkan ungkapan baru Happenings.
Tetapi sebelumnya, telah ada pertunjukan seni sejenisnya meski belum diformulakan, oleh beberapa seniman Jepang yang menamai komunitasnya “Gutai” pada 1950-an. Satu di antaranya adalah “Electric Dress” karya Atsuko Tanaka pada 1956.
Di Eropa, pada 1970, seniman Inggris Gilbert dan George menciptakan karya “Living Sculpture”. Kedua seniman ini mengecat tubuhnya masing-masing dengan cat berwarna emas, seraya menyanyikan “Underneath The Arches” .
Rosalee Goldberg dalam “Performance Art: From Futurism to the Present” (World of Art), Thames & Hudson; Rev Sub edition (2001) menjelaskan, “Performance Arts” telah menjadi sebuah cara baru untuk mengingatkan kembali publik tentang impian seni mereka dan kaitan mereka dengan budayanya sendiri.
PA bisa dilakuksan secara individu maupun atau grup. Ia bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, semisal galleri seni atau museum, bioskop, café, bar atau di sudut jalan. Dan spot publik lainnya.
Yang jelas, PA tidak akan pernah lepas dari lemen utamanya, yakni waktu, ruang seniman dan bagaimana keterkaitannya dengan audiens mereka sendiri. Dan bedanya, tidak seperti teater, pelakon dalam sebuah PA diperankan oleh seniman yang biasanya sangat jarang mematuhi plot. Artinya, bisa dilakonkan dengan atau tanpa naskah.
Action Painting
Bagaimana pula sejarah PA di Amerika yang belakangan melahirkan seniman-seniman penting di bidang seni kontemporer ini? Seperti dijelaskan Ben M Pasaribu, di Amerika, perkembangan gerakan seni rupa yang paling dinamis sebenarnya sudah terjadi pada tahun 1940-an di Kota New York. Ini dikaitkan dengan rasa frustasi umum yang terakumulasi oleh Perang Dunia.
Gerakan ini kemudian membuka perhatian Eropa terhadap Amerika, yang lantas menghasilkan sebuah cara ekspresi yang sangat spontan dan abstrak. Dengan pionis seperti Arshile Gorky, Hans Hofman, Jackson Pollock, Willem de Kooning, maka lahirlah kemudian sebutan “Action Painting”.
“Kemudian, lahirlah pula sebuatan “Performance Art” yang secara gampang diterjemahkan dengan seni rupa pertunjukan (yang secara etimologi juga berkenaan dengan “Performing Arts”), yang berarti pagelaran atau pertunjukan seni yang lebih luas, di mana seni rupa, musik, tari, teater dan multimedia berkolaborasi dengan pertimbangan teknik improvisatoris yang tinggi dan tak terbatas,” jelas Ben.
Gerakan ini kemudian kemudian menjadi salah satu trend seni yang menonjol pada abad ini. Ia sekaligus menjadi gejala khas pada era kontemporer yang berkaitan erat dengan keberagaman seni instalasi (Assembling Art, Happening Art, Site Specific Installation, Eartwork, Environmental Art).
Gerakan ini digalakkan oleh beberapa seniman, seperti Nam Jun Park, Christo Javacheff, Richard Long, Terry Allen dan Robert Smithson. Juga beberapa seniman yang bergerak dari seeni pertunjukan dan beberapa penggagas Indeterminacy, Improvisation maupun Avant Garde, seperti John Cage, Pina Bausch, Robert Wilson. Mereka juga disebut-sebut sebagai pembuka peluang masuknya dunia seni rupa dalam konstelasi pertunjukannya.
Beberapa genre PA di antaranya adalah body art, fluxus, happening, action poetry, dan intermedia. Beberapa seniman, semisal Viennese Actionists dan neo-Dadaists, lebih suka menyebutnya live art, action art, intervention atau manoeuvre.
Rezim Soeharto
Di Indonesia sendiri, seperti dijelaskan salah satu penggagas “Asean/Aksi Performance Art Event 2007” Ilham J Baday, pemakaian istilah PA sendiri baru didengungkan pada tahun 1970-an.
“Ini juga dikaitkan dengan kehidupan politik pada rejim Soeharto yang ternyata rapuh. Pada tahun 1980an, ‘Performance Art’ mulai masuk ke aktivistas mahasiswa yang mulai mengupayakan protes atas laju pembangunan yang timpang,” seperti yang ia tulis dalam artikelnya berjudul “Occupying Space” pada blognya.
Nah, bagaimana pula dengan Medan? Sebelum “Neo Ritualistic”, aksi pertunjukan seni sejenis ternyata sudah dimulai oleh Mangatas Pasaribu, yang digelar di Taman Budaya Medan, pada 1987.
“Ini adalah ‘Performance Art’ yang pertama kali digelar di Medan. ’Performance Art’ itu bertema ‘Melukis Langit’,” ujar Mangatas. Performa seni itu sendiri melibatkan empat perupa yang menggunakan media kain merak sepanjang 27 meter persegi dan sekelompok pemusik Batak “Gondang Sabangunan”.
Foto: Tonggo Simangunsong




