Home > IDEA, LIFESTYLE > Agar Ngeblog Tak Sekadar Hobi…

Agar Ngeblog Tak Sekadar Hobi…

Ngeblog. Sebenarnya ini bukan hobi baru lagi. Sudah cukup lama juga hobi yang satu ini kulakoni, tepatnya sejak tahun 2006 lalu. Karena namanya hobi, tak pernah pula terpikirkan bagaimana agar blog menjadi salah satu media profesi yang sebenarnya cukup menjanjikan. Memang pernah kudengar, blog bisa menghasilkan uang dengan jitu. Tapi, benarkah itu?

Ngeblog memang memiliki keasyikan tersendiri. Kuambil satu contoh. Ketika artikel yang kita post lumayan mendapat respon hangat, senang rasanya. Apalagi, kalau artikel itu dijadikan referensi. Bangga rasanya. Tiga tahun lebih hadir di dunia maya, The Muse setidaknya sudah mengalami itu. Contohnya, bahkan, ada liputan The Muse mengenai salah satu daerah di Sumatra Utara, dijadikan referensi oleh seorang pembaca yang sedang menyusun skripsi.

Beramal di blog itu juga yang dilakukan The Muse. Ada juga teman yang saya pasangin banner butiknya di The Muse, tanpa biaya. Syukur-syukur, lewat The Muse, butik teman itu bisa makin tenar. Dan naik omzetnya.
The Muse, memang sering mengalami “goncangan” dari pengelolanya sendiri.

Awalnya, The Muse difokuskan ke bidang pariwisata saja. Lalu, ditambahi dengan topik seni, khususnya musik dan seni rupa. Namun, belakangan The Muse juga menampilkan gosip selebriti terhangat. Demi meningktakan rating? Tidak!

Belakangan, pengelola The Muse, merasa ada yang kurang dengan performanya sebagai blogger. Ketika orang sibuk membicarakan Google Adsense di dunia maya, ia gagap. Atau, mengenai Pay Per Post. Bah! Apa lagi itu? Tak ngerti aku!

Namun, lama-lama menggoda juga. Yah, menjadi blogger yang tak sekadar untuk hobi, kenapa tidak? Caranya bagaimana? Saya pun mulai melakukan pencarian. Mulai sibuk browsing tentang bagaimana caranya menghasilkan uang dari blog. Wah! Ternyata ada banyak jalan menuju Roma. Ternyata banyak cara menghasilkan uang dari blog. Yang paling populer adalah dengan mengaplikasikan sistem Google Adsense di blog.

Yang lebih menarik ialah Pay Per Post. Anda akan dibayar setiap kali artikel Anda disetujui setelah memberikan “Term of Referensi” (tepatnya penugasan dalam istilah jurnalistik) berkaitan dengan artikel yang akan Anda tulis. Yang ini cukup menggiurkan juga, tapi applikasinya, menurut saya, cukup rumit.
Pembayarannya sistem online. Anda harus punya account Pay Pal yang sudah tervefifikasi. Di sini dia masalahnya!

Pernah saya coba, tapi terkendala dengan account Pay Pal. Harus diverifikasi. Huh! Ini dia yang menjengkelkan. Account Master Card BNI -ku ditolak. Istilah orang Medan, “Uwak-uwak makan salak, bikin palak awak”. Alhasil, keinginan untuk berpartisipasi di Pay Per Post kuurungkan.

Udah palak duluan awak!

Soalnya, ada pula yang sengaja memanfaatkan ini untuk jualan Pay Pal yang sudah terverifikasi secara virtual. Sungguh tidak sehat, kan kawan?

Jengkel dengan “keanehan” itu, saya pun memutuskan untuk bekerjasama dengan Google Adsense saja. Dari beberapa referensi yang kutemukan di “perpustakaan online” Google, salah satu mesin penghasil uang yang paling jitu memang Google Adsense. Ini semacam agensi periklanan yang dikelola Google dengan sistem afiliasi ke website-website atau blog yang memiliki performa menjanjikan.

Google akan menyetujui website-website atau blog yang efektif menjadi media bagi para pemasang iklan melalui perantara Google. Misalnya, Google tidak akan berpikir panjang jika menilai blog Anda adalah blog yang fokus pada satu bidang tertentu. Dan yang paling utama, blog kita harus menggunakan bahasa Inggris.

Fokus. Jika menulis tentang dunia anjing misalnya, tetaplah konsisten menulis tentang dunia anjing. Ya, cara merawatnya, pola makannya. Mereview jenis anjing dan sebagainya. Selanjutnya, ketika blog Anda disetujui menjadi afiliasi Google Adsense, iklan-iklan berkenaan dengan dunia anjing atau binatang peliharaan akan diarahkan ke blog Anda. Trus, gimana mendapatkan uangnya. Nah, yang itu sebaiknya daftar dulu ke Google Adsense, nanti akan diberitahu caranya.

Sayangnya, Google Adsense ternyata tidak bisa diaplikasikan di WordPress.Com. Inilah yang sedikit mengecewakanku sebagai blogger WordPress. Caranya, saya pun mulai beralih haluan. Dari WordPress ke Blogspot.

Di Blogspot saya bisa pasang Google Adsense. Maka, saya pun mencoba membangun dari awal, sebuah blog berbahasa Inggris. Blog yang lebih spesifik. Tidak seperti di The Muse ini, yang semua label bercampur aduk menjadi satu, meskipun harus saya akui, rating tinggi The Muse juga didasari karena metode campur-campur tadi.

Surprise! Ketika saya mendaftarkan blog saya, Google Adsense langsung menyetujui, meskipun sebelumnya saya sempat harap-harap cemas. Tanpa panjang waktu, segera saja kode-kode yang diberikan Google Adsense saya tampilkan di blog yang saya beri nama North Sumatra Travel itu.

Ibarat petani, mendirikan blog itu harus sabar. Tanam dulu baru tuai. Saya akui blog saya yang fokus pada Pariwisata Sumut itu harus bersabar dulu untuk mendapatkan rating yang bagus. Soalnya, pesaingnya pun tak sedikit. Ada beberapa website atau blog yang sudah fokus di bidang pariwisata Sumut. Tapi, saya akui mereka masih punya kelemahan, meski ranking Google mereka lumayan tinggi. Saya tahu di mana kelemahan mereka. Nah, di situ dia asyiknya jadi blogger.

Ngeblog tak sekadar hobi, kenapa tidak…

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.